/ movie

Review Film Banda The Dark Forgotten Trail

Berapa banyak film dokumenter yang kalian tonton secara serius? Jujur kalau saya mungkin bisa dihitung dengan tangan milik saya saja, tidak perlu pinjam tangan tetangga. Itu pun salah satunya bisa serius karena naratornya adalah Benedict Cumberbatch yang memiliki suara mahasyahdu.

Film dokumenter tentang sejarah. Apalagi inilah ya. Terpikirnya sudah pasti membosankan. Tetapi tidak dengan film Banda: The Dark Forgotten Trail. Awal saya tertarik menonton dokumenter karya Jay Subyakto ini karena diracuni oleh akun @CenayangFilm yang ngetweet begini :

Dilihat dari trailernya yang menggebu-gebu, ditambah dengan omongan mbah cenayang kalau film dokumenter ini berbeda dengan dokumenter biasanya, maka saya sangat penasaran dengan film yang berbeda. Kemudian, sebagai orang yang jarang travelling rasanya ingin melihat sisi lain Indonesia di layar lebar tanpa isi cinta-cinta. he he.

Film ini dibagi menjadi beberapa bagian. Pertama mengisahkan dengan detail sejarah Kepulauan Banda yang menghasilkan buah pala terbaik di seluruh alam semesta. Hal ini yang membuat terjadinya eksplorasi dengan berlayar. Sejarah mengenai masa penjajahan, perdagangan, perbudakan, dsbnya diceritakan dengan epik oleh para sejarawan yang berasal dari Indonesia dan Belanda. Kalau kita masih ingat pelajaran sejarah jaman SD, SMP, dan SMA pasti sudah tidak asing dengan cerita di film ini. Mulai dari jalur sutera, nama J.P. Coen, dan yang tercengang adalah bagaimana Belanda rela menukar Pulau Run dengan Manhattan untuk Inggris, karena begitu berharganya apa yang berada di pulau tersebut [lihat Perjanjian Breda]. Buah pala disamakan dengan emas. Namun karena suatu hal, pulau ini menjadi tempat pengasingan, tempat pembunuhan masal, terlupakan.

Part yang paling saya suka adalah cerita tentang Bung Hatta dan Sutan Sjahrir yang diasingkan di kepulauan ini oleh Belanda. Diceritakan bagaimana cikal bakal Indonesia berasal dari kepulauan ini, salah satunya adalah Banda Naira.

Jangan berharap negara lain menghargai bangsa ini, bila kita sendiri gemar memperdaya sesama saudara sebangsa, merusak, dan mencuri kekayaan Ibu Pertiwi.

Kurang lebih itu salah satu quote Bung Hatta yang langsung menyentuh sanubari (tsah). Bagian film lainnya menceritakan bagaimana kelangsungan hidup sekarang dari penduduk Kepulauan Banda ini. Kebudayaannya yang multikultural, jatuh bangun bisnis pala, keindahan laut di atas tanah vulkanik, dan lain-lain.

Film dokumenter ini dikatakan patut ditonton karena dikemas dengan sinematografi yang ciamik. Berdasarkan berita dari kompas.com, film ini digarap oleh orang-orang yang memiliki mata yang tidak biasa, yang menangkap keindahan Banda. Salah satunya Oscar Motuloh, fotografer yang memimpin Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara. Backsound menggebu-gebu terasa pas, walau terkadang terasa di telinga terlalu 'keras', tapi ini yang bikin makin hanyut. Selama menonton, saya belajar sejarah lagi, dan sambil membayangkan bagaimana kondisi jaman dahulu. Penonton bisa ikut berimajinasi liar dengan otaknya masing-masing.

A post shared by Sheila Timothy (@lalatimothy) on

Ada Reza Rahadian sebagai narator yang akan membimbing kita sebagai penonton untuk semakin tenggelam dalam cerita tentang Banda dan buah pala. Kemampuan Reza membacakan teks tidak perlu diragukan. Dengan mendengar suaranya saya sudah terbayang wajah tampannya. Reza Rahadian membacakan quote-quote penting dengan apik. Jadi kepikiran Benedict Cumberbatch terus kalau jadi narator. hehe. Selain sejarawan, di film ini juga menampilkan petani pala, penduduk Banda, dsb sebagai narasumber.

Jadi menurut saya, Banda: The Dark Forgotten Trail ini layak ditonton untuk mendapatkan pengalaman menonton film dokumenter yang mewah. Biasanya nonton di NatGeo, coba sekali-kali menonton film dokumenter asli Indonesia. Dengan ini saya diingatkan kembali mengenai betapa berharganya kepulauan di timur Indonesia, Bahwa Indonesia memegang peranan penting dahulu kala. Betapa kayanya Indonesia lebih tepatnya. Film ini mengajarkan kepada penontonnya mengenai masa lalu, masa kini, dan harapan Banda.

Rasanya ingin keliling Indonesia, sambil mendengarkan lagu-lagu Banda Neira......

Brigitta Yolanda P. P.

Brigitta Yolanda P. P.

Not so talkative, but I try to write all my talks. Need coffee everyday and crazy about 'senja'. -b.yolanda28@gmail.com-

Read More