/ travel

Kebersamaan dan Wisata Alam di Situ Cileunca, Bandung

Kemanakah angin membawaku lagi di bulan September lalu? Oh ternyata saya jalan-jalan ke arah Bandung, lewat dikit, dan bermain-main di Situ Cileunca, Desa Wanasari, Pangalengan. Saya mengunjungi lokasi ini bersama dengan Komunitas Lektor Blok B, Gereja St. Yohanes Penginjil. Pesertanya dari berbagai usia, remaja hingga 60 tahun pun ada. Luar biasa. Padahal kegiatannya kebanyakan bertema adventure yang bisa dilakukan di sini, termasuk flying fox dan rafting. Kalau mau tahu berapa harga tiketnya bisa kunjungi site ini ya.

Kami sampai lokasi ini sekitar jam 12 siang lewat setengah jam, kemudian makan siang. Acara pertama kami adalah team building dengan permainan lucu-lucu yang membuat tertawa. Menarik sekali pemandu membawakan permainannya. Bisa ngakak sampai perut melilit rasanya. Oke juga nih, padahal berbagai usia tapi ketawanya bisa nyambung :D

Can you spot me?

Selanjutnya kami melakukan kegiatan menantang yang bikin ketar ketir (gak ding). Namanya flying fox. Terakhir saya flying fox itu mungkin SMP ya atau SD. Menariknya dari flying fox di sini yang mengikat tali pengamannya peserta sendiri, kan biasanya dipakein petugasnya. Mungkin karena memang pesertanya banyak (yang naik mungkin sekitar 25 orang), jadi daripada makan waktu dipakein lebih baik ngajarin bersama-sama. Flying foxnya menyebrangi danaunya... Masih dalam rangka pinjam action camera, tadinya mau sambil gegayaan video lagi terbang, terus lupa ternyata tangan juga harus pegangan tali. Alhasil hasilnya ga jelas....... kapan benernya yak.

mengantri flying fox

Setelah flying fox yang menarik adalah rafting! Nah kegiatan yang satu ini saya belum pernah mencobanya. But I was so excited!!! Sayang sekali kami mulai raftingnya itu pukul 17.00. Jadi jarak yang ditempuh dipotong dan pemandangan sepanjang rafting makin gelap, padahal sungainya melewati hutan pinus. Kalau siang saya yakin bagus deh.

Hutan Pinus di Cileunca

Ada beberapa aturan yang tentunya harus dilakukan dan ditaati saat melakukan kegiatan ini. Aturan rafting bagi penumpangnya adalah tentu memakai life jacket dan helm, serta alas kaki yang tidak licin. Dalam satu kapal karet tersebut harus dibagi rata berat badannya. Kalau ada yang besar 1, maka temannya kecil-kecil. Biar imbang dan amang-amangnya ga keberatan. Amang-amang maksudnya adalah pendayung utama di belakang. Kemudian saat sudah memasuki jeram, penumpang kapal tidak bisa diam saja mengikuti arusnya. Jadi ternyata ada gerakan yang harus dilakukan, yaitu geser kiri atau kanan sambil goyang-goyang kalau ini tujuannya saat perahu nyangkut di batu bisa kegeser. Kemudian merunduk, ini dilakukan ketika kita akan melewati curug.

Ada satu momen dimana perahu karet yang tidak kecil itu harus melewati sela-sela batu sempit, perahu bisa oleng mepet ke batu seberangnya, dan penumpang bisa tergencet. Semacam deg-deg ser juga kalau ini, takut diceburin. Kemudian saya sempat dimarahi amang-amangnya juga, marah becanda sih, karena saya geser ke kiri tapi ga goyang. Alhasil tuh perahu nyangkut di batu lama dan saya disiram-siram dengan air dingin... Kalimat : "Teh....goyang teh.... Jangan ketawa aja!!!" mungkin menjadi kalimat termemorable bagi saya. Keseluruhan ternyata rafting sangat mengasyikan jika dilakukan dengan benar. Amang-amang (operator) perahu juga sangat semangat dan sering memberikan jokes lucu sepanjang jalan, membuat kami santai dan tidak tegang. Kekurangannya ya itu, sudah gelap. Maaf saya lupa nama sungai yang kami jerami di Cileunca ini, tapi memang kalau kata pemandunya sih saat kami rafting itu agak surut airnya, jadi keseringan nyangkut di batu.

Rafting gembira, kelihatan ya yang overhappy siapa

Setelah kedinginan dan badan pegal-pegal, kami mandi dan saya langsung cari tolak angin (promosi). Biar sendawa terus, daripada masuk angin... hahaha. Nah acara dilanjutkan dengan api unggun dan berdoa bersama.

Pagi harinya saya dan salah satu kakak yang sering bertugas bersama di misa mingguan, Mba Indah, sepakat mau bangun pagi melihat matahari terbit dari pinggir danau. Jam 6 kami mulai keluar dari penginapan. Kebetulan penginapan kami berada agak sedikit di atas dari lokasi danau. Saat jalan, sudah mulai terlihat semburat-semburat fajar. Sesampainya di tepi danau, kami sudah banyak melihat "the sun chaser" dengan gear andalan mereka dan tak lupa tripod. Pada hunting foto kak, dengan menggunakan filter andalan mereka. Ini filternya bukan yang dari aplikasi, filter yang dipasang di depan lensa langsung. Nih yang mau tahu filter lensa yang bagus untuk landscape. Ah, rasanya jiper. Tidak bawa tripod, ditambah kamera lagi error karena setelah 10 tahun punya dan dipegang tangan ini malah jatooohh dong dari pangkuan saya padahal dikira saya kalungin. Udah speechless.

magical of sunrise

Well, saya adalah penikmat senja dan jarang sekali merasakan matahari terbit di alam terbuka. Ketika saya melihat langsung bagaimana matahari muncul sedikit demi sedikit dari balik perbukitan, rasanya ajaib. Bagus....... Matahari muncul dan memecah kabut yang sedari awal berarak. Rasanya bahagia gimana gitu lihatnya :'') Bisa diberikan kesempatan lagi menikmati hari baru. Matahari terbit dilihat dari danau saja sudah bagus, apalagi kalau lihat dari puncak gunung ya. Bersyukurlah kalian yang sudah merasakan matahari terbit dari atas gunung :'') beberapa foto yang sudah saya edit dan masukkan instagram saya :D

Setelah puas, kami mandi dan bersiap-siap menuju Bandung untuk ke Katedral Bandung. Foto-foto dikitlah.

Sampai di Katedral Bandung sudah telat 15 menit dari jadwal misa jam 12 siang. Tapi tetep masuk dan mengikut misa. Ibadah selesai kemudian kami berkunjung menemui lektor di Katedral Bandung tersebut dan bermain bersama. Karena waktu yang terlalu singkat, jadi saya tidak sempat menanyakan nomor telepon teman-teman lektor baru (lah, maksud?). Intinya kami di acara ini bertukar pikiran dan pengalaman mengenai menjadi pelayan Tuhan dalam membaca kitab suci di sebuah misa.

kebersamaan di Katedral Bandung

Demikian acara sederhana dan bermakna yang dilakukan Lektor Blok B dari Jakarta-Situ Cileunca-Bandung-dan kembali ke Jakarta. Kami mendapatkan kebersamaan yang pastinya akan sulit dilupakan, serta alam yang memanjakan mata juga pastinya membekas di hati. Ternyata menyenangkan ya berlibur di lokasi yang adem-adem :''D

Know where to find the sunrise and sunset times and note how the sky looks at those times, at least once - Marilyn vos Savant

Brigitta Yolanda P. P.

Brigitta Yolanda P. P.

Not so talkative, but I try to write all my talks. Need coffee everyday and crazy about 'senja'. -b.yolanda28@gmail.com-

Read More