/ travel

Eksotisme Tana Sumba Barat

Sudah bulan apa ya sekarang ini? Tapi saya baru sempat menulis dan publish tentang perjalanan saya di Pulau Sumba, NTT. Padahal trip ke Sumba ini harus diabadikan, sehingga saya harus menulis supaya saya dapat berbagi.

Salah satu hal yang memaksa saya untuk menulis adalah kerinduan saya pada Sumba. Ditambah banyak sekali orang-orang yang saya follow di instagram juga sudah pergi ke sana dan mengupload foto-foto di Sumba. Jadi sebenarnya Sumba itu ada di mana sih? Apa jauh dari Labuan Bajo? Ke sana naik apa pesawat apa, turun di bandara mana? Jangan sedih, saya tidak akan menuliskannya dengan lengkap dan mungkin pertanyaan di atas tidak saya jawab. Mohon maaf, ini perjalanan saya sudah 5 bulan yang lalu, sepertinya kurun waktu itu merupakan waktu yang cukup untuk melupakan sesuatu secara detail. Melupakan mantan apalagi... lha

Oleh karena itu, saya tuliskan dengan tidak detail ya.. (blogger macam apa). Berikut.

Sumba Barat - Sumba Barat Daya

Saya dan teman saya melakukan perjalanan ini pada tanggal 9 - 12 Februari 2018. Kami mengikuti perjalanan dari 1000 Guru. Lebih lengkap mengenai 1000 Guru bisa dibaca di postingan saya yang sebelumnya. Perjalanan ke Sumba ini harus melalui Bali terlebih dahulu, transit sebentar, lalu kemudian melanjutkan perjalanan ke Bandara Tambolaka, Waikakubak. Bandara ini terletak di Sumba Barat. Jadi hari Jumat dan Sabtu kami keliling Sumba Barat dan Sumba Barat Daya. Hari Minggu dan Senin kami keliling Sumba Timur. Pada postingan ini saya akan membahas mengenai Sumba Barat dan Sumba Barat Daya terlebih dahulu ya. Buat yang penasaran Pulau Sumba itu ada di sebelah mana, bisa memperhatikan gambar peta di bawah ini ya gaes..

beda toh antara Sumbawa dan Sumba :)

Rombongan kami sampai di Bandara Tambolaka sekitar pukul 16.00. Bandara kecil dan rasanya deg-degan karena baru kali ini saya sampai di lokasi paling jauh dari Pulau Jawa. Sampai sana, langsung disambut oleh driver-driver dengan sirih penuh di mulut mereka! Ini menjadi ciri khas di Pulau Sumba, kebanyakan gigi mereka merah-merah karena rajin ngemut sirih dan kapur.

Bandara Tambolaka

Setelah kami semua siap untuk naik ke dalam mobil, kami pun memulai perjalanan ke lokasi pertama. Oke sejujurnya saya lupa ini nama lokasinya apa. Sumba penuh dengan perbukitan, dataran berundak-undak yang membuat saya begitu terpesona. Maklum norak, jarang-jarang pergi ke luar Pulau Jawa, jadi tidak tahu jenis dataran khas di masing-masing daerah. Kami ke sana pada saat musim hujan, sehingga perbukitan yang ada masih warna hijau, masih terlihat adem.... perjalanan menuju lokasi ini kami melewati tanah kosooonggg. Rumah penduduk masih sangat sedikit. Kendaraan yang lewat juga hanya kendaraan kami saja. Sungguh kesan pertama yang begitu membekas bagi saya, kepikiran ini gimana mau ngapa-ngapain cukup sulit... Tapi mereka tetap hidup dengan caranya. Ini adalah perbukitan pertama yang kami singgahi, sekali lagi nama lokasinya lupa gaes. Maapinn :))

Perbukitan di Sumba

Pantai Kita

Setelah berfoto singkat di area perbukitan pertama, kami selanjutnya menuju pantai pertama yaitu bernama Pantai Kita. Lokasinya tidak terlalu jauh dari perbukitan sebelumnya, namun masuk-masuk menuju lokasinya sangat sepiii. Rumah hanya 1 tiap berapa kilometer. Sinyal menuju lokasi ini cukup sulit. hehehe. Namun setelah sampai sana, saya dimanjakan dengan pemandangan pantai panjang, pasir putih, laut dengan ombak yang tenang... Langit menuju senja, waktu favorit saya. Tidak dipungkiri, saya langsung jatuh cinta dengan senja Sumba. Warnanya membuat saya kagum. Padahal pantai di sini tidak langsung menghadap ke Barat, namun langitnya tetap menunjukkan keelokan. Betah.

Pantai Kita, iya....kita :D

Danau Weekuri

Pada hari Sabtu, rombongan kami memulai hari dengan mengajar di SD Reda Meter, Sumba Barat Daya. Cerita lengkapnya dapat dibaca di link berikut ini. Setelah bersenang-senang dengan anak-anak dan guru-guru di sana, kami langsung melanjutkan perjalanan kami menuju Danau Weekuri, lokasi paling harus dikunjungi. Kami sampai di lokasi ini pukul 12.00 siang. Makan terlebih dahulu, lalu kemudian berkeliling di lokasi ini. Danau ini merupakan danau air asin yang berasal dari air laut yang terpisah dengan karang besar. Keindahannya danau ini akan saya deskripsikan dengan warna gradasinya, biru tua, biru muda, biru telur asin, menjadi satu. Turqouise gitu deh.. Boleh nyebur banget di lokasi ini. Namun entah karena saya males ganti baju atau gimana, yaudah ga nyebur dong.. Padahal kan ya kapan lagi. hehe tapi tidak apa-apa dengan melihat keindahannya dan teriknya lokasi ini saja rasanya sudah bahagia.

Danau Weekuri ini berbatasan dengan laut lepas dengan karang yang besar. Terdapat jembatan yang bisa dilewati, jadi bisa sambil lihat danau dan laut bersamaan, terserah mau berfoto dengan background yang mana. Selain itu terdapat padang rumput yang bisa juga dijadiin tempat foto kalau memang memiliki ide dan kreasi menjadi model dan fotografer. hehehehe

Sekeliling Danau Weekuri

Pantai Mandorak

Beranjak dari Weekuri, kami kemudian menuju laut lainnya yaitu bernama Pantai Mandorak. Pantai ini hanya kecil saja, dengan objek dua karang. Ombaknya cukup besar. Warna pasirnya agak pink-pink merona gitu deh sepenglihatan saya waktu itu. Perasaan kali ya, tapi lagi-lagi memang pasirnya sangat halussss.... Selain ada pantai, terlihat juga tebing-tebing, jurang yang berbatasan langsung dengan laut lepas. Sangat dianjurkan tidak berusaha untuk melompat :(
Langit dan cuaca sangat bersahabat di kala itu, kami disuguhkan pemandangan spektakuler. Biruuuuuuuu. Terik namun biru. Silau namun adem. Apa kata yang lebih indah dari menakjubkan ya? hmmmmm

Mandorak dan sekelilingnya

Kampung Adat Praijing

Perjalanan kami terus berlanjut. Memang direncanakan hari Sabtu itu menghabiskan destinasi di Sumba Barat dan Sumba Barat Daya. Setelah dari Mandorak, kami menuju Kampung Adat Praijing. Lokasi ini merupakan sebuah perkampungan kecil dengan dengan rumah tradisional berjejer dan atapnya masih menggunakan rumbai daun. Spot paling terkenal berada sedikit di atas, sehingga akan terlihat jejeran rumah-rumahnya menjadi eksotis dan apik. Berhubung mobil saya telat, jadinya saya hanya sempat berfoto sebentar di bagian bawah. Sebetulnya kalau mampir ke kampung adat seperti ini lebih enak jika kita sambil berbincang dengan penduduk asli dan mengetahui bagian-bagian rumah atau kebiasaan mereka. Namun karena saya di sini cuma 10 menit, ya mau tidak mau foto sedikit dan kembali langsung naik mobil. Untuk cerita lengkap tentang Kampung Adat Praijing ini mungkin bisa search sendiri, atau saya sajikan link berita ini

Praijing

Air Terjun Lapopu

Kemudian sampailah pada tujuan akhir kami di Sumba Barat, yaitu Air Terjun Lapopu. Medan jalan menuju Lapopu sungguh whew.. Mobil kami harus melewati jalan setapak, dalam artian memang hanya cukup untuk satu mobil saja. Jalannya pun masih berbatu. Kata Kak Jemi dari 1000 Guru daerah ini masih banyak begal. Sekarang sih katanya agak mendingan, dulu parah. Jadi memang kalau mau ke sini harus dengan rombongan dan juga dengan penduduk Sumba asli yang menjadi pengiring kita. Dari tempat parkir menuju lokasi air terjunnya harus dilalui dengan berjalan kaki selama sekitar 10 menit. Kenapa 10 menit? Karena medannya sulit, terutama untuk saya yang tidak lincah. Jalannya bebatuan dan kami harus melewati jembatan bambu sederhana untuk menyeberangi sungai yang arusnya cukup deras.

Perjalanan menuju Air Terjun Lapopu

Berdasarkan keterangan Kak Jemi lagi, biasanya kalau sedang musim tidak hujan air di air terjun ini akan sangat biru kehijauan.. Warnanya jadi sangat indah. Namun memang kebetulan, kami sedang musim hujan jadi warna airnya kurang biru. Ini saja sudah sangat indah, bayangkan saja lokasi terpencil pelosok-pelosok tapi ternyata memiliki sumber air yang lagi-lagi bikin kagum. Saya sedikit mendengar perbincangan antara Kak Jemi dengan penjaga air terjun di sini, katanya sudah semakin ramai yang berkunjung ke sini. Kak Jemi bilang supaya dijaga terus keamanannya, karena jika aman semakin banyak orang yang mau datang ke sini dan juga bisa menjadi penghasilan tambahan bagi mereka :'')
Kak Jemi, sangat menginspirasi memang :'') (buat yang penasaran siapa kak Jemi, search Jemi Ngadiono ya.. hehe). Boleh dikatakan (dan juga saya mendapat informasi dari Darius si blogger di dailyvoyagers.com), bahwa Sumba merupakan salah satu daerah termiskin dari seluruh NTT. Jadi, dengan tingginya wisatawan yang berkunjung ke sana bisa menjadikan tambahan pemasukan dan mereka memberikan profesi bagi mereka.

Tentu saja di air terjun ini kami nyeburrr... Karena waktu sudah menunjukkan pukul 17.30, jadi ya nyebur saja deh. Airnya sangat dingin dan juga arusnya kuat. Jadi harus hati-hati saat berenang di sini. Kalau yang kuat bisa sambil berenang menuju air terjunnya. Bahkan para pengantar kami melakukan aksi gila untuk manjat-manjat ke atas bebatuan air terjunnya. Quality time menyenangkan di hari Sabtu sore... Ah rindu :'D

Lapopu ceria >.<

Setelah merasa cukup dengan kedinginan dan menjaga badan supaya tidak masuk angin, kami pun kembali ke tempat parkir dan membilas badan serta ganti baju. Perlu diingat, fasilitasnya masih sangat minim, jadi kami ganti baju di kamar mandi tanpa lampu. Gelap-gelapan sedikittt.. Betapa menyenangkannya dua hari pertama kami di Sumba. Pulau Eksotis, yang bikin saya jatuh hati. Pulau yang sangat terik, panassss, namun tidak membuat kapok untuk menikmati kepanasannya itu. Sumba Barat dan Sumba Barat Daya ini banyak banget katanya yang masih harus dikunjungi. Harusnya dikasih waktu 48 jam full untuk eksplorasi Sumba Barat ini. Salah duanya lokasi yang belum dikunjungi yaitu Pantai Mbawana (yang terkenal dengan karang bolongnya) dan Tanjung Mareha. Coba search deh, sepertinya sunset di sini akan terlihat ajaib!

Selain itu untuk tahu lokasi lainnya tentang Sumba bisa lihat highlight nya selebgram dengan account @her_journeys atau @kadekarini hehehe. Mereka udah sering ke Sumba dan menjadikan Sumba salah satu destinasi favorit mereka.. Penasaran dengan apa yang ada di Sumba Timur? Mari tunggu tulisan saya selanjutnya yaa... (sapa juga yang nungguin). Saya akan berikan foto-foto perbukitan di Sumba Timur yang menurut saya aduhai gile (most of all tidak saya edit ya, fotonya juga mungkin biasa aja, tapi lokasi spektakuler seharusnya sudah dapat tergambarkan dari hasil foto saya hehee).

Even bad days are good days when you're travelling the world - hmmm got it randomly from google yaa :))

Brigitta Yolanda P. P.

Brigitta Yolanda P. P.

Not so talkative, but I try to write all my talks. Need coffee everyday and crazy about 'senja'. -b.yolanda28@gmail.com-

Read More