/ review

Keheningan Film Silence

Ketika orang-orang sedang ramai menonton Logan dan Kong: Skull Island weekend ini saya memilih menonton Silence. Well, sebenarnya juga karena waktu untuk menonton tidak banyak sih. Jadi disempatkan nonton Silence dulu, takut cepat turun layar.

Saya pengen banget nonton Silence di bioskop karena saya membeli dan membaca buku Silence ini karya Shusaku Endo. Pas saya beli awal cover bukunya seperti di bawah ini
sekarang sudah dicetak ulang oleh GPU dengan cover yang berbeda. Awal ketertarikan saya membeli buku ini ketika membaca ada kata-kata yang maknanya kurang lebih, ke mana kah Tuhan ketika umatnya membutuhkannya, apakah memang hanya diam saja?

Saat baca tweet yang mempromosikan trailer Silence saya sangat excited, ditambah trailernya menggugah sanubari (lebay bahasanya)

Seperti biasa saya langsung kepo dengan film ini. Ternyata ini adalah proyek lama sang sutradara Martin Scorsese . Dua puluh tujuh tahun Scorsese meramu novel Shusaku Endo ini untuk menjadi sebuah film. Scorsese sendiri termasuk sutradara yang saya minati filmnya, karena banyak kerja sama dengan Leonardo Dicaprio juga sih.

Dengan latar abad ke-17 Silence bercerita tentang perjuangan penyebaran agama Katolik di Jepang. Awalnya dua pastor Jesuit merelakan diri mereka untuk mencari pastor sebelumnya, Pastor Ferreira (Liam Nesson), yang sudah berada di Jepang dan dikabarkan sudah meninggalkan Katolik. Saat itu pemerintah Jepang membenci Katolik dan segala yang berhubungan dengan Katolik.

Dua pastor itu bernama Rodrigues (Andrew Garfield) dan Garupe (Adam Driver). Mau masuk ke wilayah Jepang saja harus menyelundup diam-diam, karena jika ketauan mereka bisa saja langsung ditangkap. Kemudian berbagai perhelatan muncul.

Inti cerita Silence ini adalah mengenai iman dan kepercayaan kepada Tuhan. Ketika sedang menderita, benar-benar menderita, dan kita berdoa kepada-Nya terkadang merasa Tuhan kenapa hanya diam saja. Itu yang dirasakan Rodrigues. Banyak umat Katolik diceritakan menderita, disiksa, miskin, bahkan dibunuh di depan mata Rodrigues.

Sebagai orang Katolik yang menonton rasanya nyelekit-nyelekit dikit, bahasa kasarnya ada unsur penistaan (SORRY!). Bahkan ada kalimat dengan bahasa Jepang yang tidak diterjemahkan teksnya di layar. Mendekati akhir film ternyata Tuhan akhirnya menjawab pertanyaan dan doa Rodrigues dengan jawaban di luar akal sehat, di luar keinginan Rodrigues sendiri. Begitulah, mungkin memang Tuhan selalu punya rencana dan jawaban di luar pikiran kita.

Sepanjang 2 jam 40 menit film ini benar-benar disuguhkan keheningan yang mendalam. Tidak ada scoring. Ketika merasa keheningan itu sendiri adalah bunyi yang paling bising dalam studio. Ada satu momen di mana sang aktor bergerak, tapi benar-benar gak ada suara satu pun. Itu epic sih. Akting Andrew Garfield di sini bener-bener oke. Ga kebayang aktingnya di Hacksaw Ridge macam gimana, yang bikin dia dapet nominasi Oscar (ya habis ini nonton Hacksaw Ridge..dari bajakan).

Film ini berdurasi lama, ga pake mikir, tapi bener-bener hening, tapi tidak sehening The Artist juga ya itu film bisu. Banyakan suara jangkrik kalau ini. Banyak inner sound (uopo inner sound) daripada dialog. Keheningan yang bisa bikin merenung. Jadi pecinta film jeder-jeder tidak disarankan nonton ini. Tapi bagi saya, sangat terpuaskan dengan film ini. Menggelitik iman dan kepercayaan mengenai keberadaan Tuhan.

Sayang sekali film Scorsese ini hanya mendapatkan 1 nominasi di Oscar, yaitu Best Cinematography. Ada yang bilang sih karena submit filmnya terlalu dekat dengan batas penilaian Oscar, jadi tidak terlalu dilirik...

..kemudian habis nonton film ini pasti inget berdoa dulu sebelum makan. atau mau mengaku dosa :)

(Edited) Minggu ini saya ke gereja dan tadi dalam doa umat didoakan bagi mereka yang menderita karena Injil. Pikiran saya tertuju pada film ini. Didoakan agar selalu tetap setia dan teguh kepada Kristus. Menjadi pengikut Kristus itu memang bukan hal yang mudah kawan :')

Namun dalam diamNya, Tuhan ikut menderita bersama kita :')

Brigitta Yolanda P. P.

Brigitta Yolanda P. P.

Not so talkative, but I try to write all my talks. Need coffee everyday and crazy about 'senja'. -b.yolanda28@gmail.com-

Read More