/ thoughts

Miracle for Liverpool FC

Kau tahu pekerjaan paling menyiksa dalam hidup ini? Menunggu. -- Dee dalam bukunya Gelombang

Kalau memang quote di atas benar adanya, fans Liverpool FC di seluruh dunia tersiksa terus dong ya. Menunggu gelar juara yang sudah lama tidak didapatkan. Jangankan gelar English Premier League, gelar sampingan saja sudah bertahun-tahun tidak diangkat oleh kapten Liverpool.

Jujur, saya tersiksa :D

Mendukung LFC sejak musim 2002/2003. Awalnya saya menyukai Michael Owen dari England di Piala Dunia. Usut punya usut, ternyata doi pemain LFC (yang di kemudian hari malah masuk MU, musuhnye LFC, jadinya dimusuhin sama pendukung asli sana deh, wah ya ngomongin Michael Owen bisa panjang sih). Pertandingan pertama yang saya tonton itu LFC vs Arsenal, Community Shield. Nonton pertama saja sudah kalah. Tapi saya kekeuh untuk mendukung The Reds. ehe.

Owen dan Gerrard

super ganteng Owen, tapi sekarang ikutan bete karena ya gitu..

Owen pernah ke Indonesia sbg alumni United (haha!), dan saya nonton sendiri, kamera dibawa, tapi memory card ga kebawa (HAHA!). oot dikit

Momen terbahagia menjadi pendukung LFC adalah menonton final Liga Champion tahun 2005 melawan AC Milan. Saat itu pelatihnya Rafa Benitez. Sempat tertinggal 3-0, kemudian mengejar menjadi 3-3 dan menang adu pinalti. Saya saat itu hanya sanggup menonton dari jam 2 pagi (dan sendiri di rumah) sampai persiapan adu pinalti, sisanya nonton siaran ulang tanpa tahu final resultnya. Pas tahu menang girangnya bukan maen. Coba kalau kalah.... Saya bahkan sempat menulisnya di blog friendster jaman itu. Tapi sayang ya sudah hilang tulisannya bersama sampah internet lainnya.


Gerrard :'') oh ya LFC masih jadi pemenang Champions terbanyak di Liga Inggris. ehe.

Bertahun-tahun selanjutnya gonta-ganti pelatih, pemain kesayangan pada pergi, gonta-ganti tipe permainan, tapi saya masih konstan memperhatikan berita dan mengusahakan menonton pertandingan Liverpool.
You guys should watch football match with me.. Serunya itu melebihi nonton film horror. Saya bisa teriak, saya bisa memaki, saya bisa gebuk-gebuk lantai, saya bisa menangis. Yak, saya penonton ekstrim sih.

Pada tahun 2013 LFC sempat berkunjung ke Indonesia dan saya sempat merasakan atmosfer menyanyikan You'll Never Walk Alone bersama suporter lainnya. Merinding. Melihat Steven Gerrard dari kejauhan dengan gaya jalannya yang khas. Bahkan saya dan dua orang teman menyusup masuk ke Hotel Mulia untuk minta tanda tangan pemain-pemainnya. Saya mengalami starstruck. Mematung pas lihat Daniel Agger, Jordan Henderson, Martin Kelly, Skrtel masuk lobby dan tanda tangan di jersey. Bener-bener cuma bisa bengong, mau minta foto bareng maluuuuuuu. Terus sekarang nyesel :''(


salah satu benda paporit

Liverpool FC

satu-satunya foto yang tersisa dari nonton langsung di GBK karena yang lain hilang ga tau ke mana. ada Cou, Leiva, Gerrard... :'')

Well, anyway bertahun-tahun pasang surut mendukung LFC sudah dirasakan. Surut seringnya. Patah hati berulang-ulang. Gelar terakhir yang didapatkan hanya FA Cup dan Community Shield di tahun 2006. Gelar liga Inggris yang utama dirasakan terakhir musim 1890an esh sorry, maksudnya 1989/1990. Itupun nama liganya belum berubah menjadi EPL. Bayangpun lah gaes, lebih tua dari saya itu umur piala di Trophy Room LFC di Anfield pastinya. Saya tidak tahu LFC ini dapat kutukan apa, rasanya kok sulit sekali ya dapat juara.

Kalau dari sisi permainan yang saya suka itu LFC termasuk masih cukup menyuguhkan permainan Kick and Rush Liga Inggris. Kalau dilihat-lihat era globalisasi ya dengan masuknya pelatih-pelatih asing dengan filosofi permainan bola mereka masing-masing, Kick and Rush sudah tidak terlalu terasa di Liga Inggris. Taktiknya bermacam-macam, ada yang menguatkan di pertahanan parkir bus ala Mou, ada yang mengusung permainan bola indah, dan sebagainya. LFC memang cukup banyak memiliki pemain dari Inggris dibandingkan dengan klub lainnya.

Bersama dengan Klopp pun, permainan LFC terasa hidup. Kata orang, gaya heavy metal Klopp ditularkan di klub ini. Dengan menekan lawan terus-menerus, kejar bola hingga dapat itu yang masih menjadi daya tarik bagi saya. Saya memang suka dengan klub yang menyuguhkan permainan menyerang, dibandingkan dengan permainan gaya lambat menunggu bola. Terasa bedanya kalau menonton Liga Italia. Ngantuk! Tidak ada salahnya dengan taktik pertahanan yang sangat rapat, yang penting bisa memberikan gol lebih banyak dari lawan kan. Heheh. Ya apalah dua paragraf ini tulisan sotoy saya, jujur setelah kembali ke Jakarta saya hampir tidak pernah menonton bola karena deg-degan.

Dulu di Jogja termasuk sering nonton bareng dan sangat mengikuti perkembangannya. Sekarang tidak. Jadi sebenarnya gaya permainan terkini LFC macam gimana saya juga tidak terlalu paham, yang pasti saat ini mereka berhasil finish di nomor 4 dan tahun depan berhak mendapatkan posisi untuk kualifikasi Liga Champions. TAPI TANPA GELAR JUARA! Sekali lagi, TANPA GELAR JUARA. HAHAHA (ga santai). Coba deh lirik klub di seberang, finish nomor enam sih, tapi masuk Liga Champions, dapat trophy dua pula! HAHAHA.... Ada satu klub juga dari London yang akhirnya terlempar dari empat besar padahal itu posisi favorit seumur hidup kayaknya, nah tapi tetep dapet gelar loh!

Jadi... Kopites harus menunggu keajaiban berapa lama lagi ya gaes untuk mendapatkan satu saja gelar tambahan? Harus berapa purnama lagi kami lewati untuk melihat Henderson mengangkat piala?

Keajaiban, datanglah

Saya tidak bisa berpendapat banyak mengenai permainan atau taktik Klopp yang perlu diubah. Tapi baru tanggal 220617 ini LFC sudah mulai mengontrak pemain baru dan pemain kali ini cukup meyakinkan, bernama Mohamed Salah. Berdasarkan info, doi adalah pemain dengan catatan yang cukup baik di Liga Italia musim 2016/2017. Menggunakan nomor 11, menggantikan Firmino, diharapkan Salah bisa membawa angin segar membantu teman-temannya nanti ya. ehe..

Beberapa gosip signing lainnya juga (katanya) cukup menggiurkan. Tapi kalau saya sendiri berharap LFC membawa defender yang mumpuni. Pertahanan LFC bikin jantungan! Selama ini saja Milner ditarik ke belakang jadi left back, padahal dia sebenarnya gelandang kan. Mudah-mudahan ada bek bagus. Kemudian kalau kiper, yah berharap Mignolet bertobat tidak melakukan hal-hal aneh di tahun depan. Mignolet, Karius ganteng sekali, dan kiper lainnya masih muda-muda, jadi seharusnya mereka bisa banyak belajar dan semakin berkembang.

Harapan dan permintaan keajaiban lainnya mungkin kesembuhan skipper LFC, babang Jordan Henderson yang satu musim kemarin hampir ga main. Kangen! Kemudian semoga Coutinho juga tidak pindah klub. Ehe. Klopp bisa stabil meraih kemenangan! Ya mudah-mudahan penantian The Kop tidak terlalu lama lagi untuk merasakan tambahan trophy untuk si merah ini. Dambaan sekali.

Semoga keajaiban terjadi di musim 2017/2018, sama seperti dahulu tertinggal 3-0 tapi ternyata berhasil comeback. Big Amen, yes? ehe... Apalagi umurnya sudah bulat 125 tahun nih.
You'll Never Walk Alone

At the end of the storm, there's a golden sky

Brigitta Yolanda P. P.

Brigitta Yolanda P. P.

Not so talkative, but I try to write all my talks. Need coffee everyday and crazy about 'senja'. -b.yolanda28@gmail.com-

Read More