/ book

Yuk, Membaca di Perpustakaan Nasional RI

Berdasarkan artikel ini minat baca Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara. Cukup memprihatinkan. Bahkan bagi saya sendiri pun merasa saat ini sudah sangat jarang membaca buku. Salah satu cara saya meningkatkan minat baca adalah dengan 1 bulan 1 buku 1 review di blog. Kebetulan buku Agustus sudah saya review, untuk buku September menyusul ya (haha, jujur ini cukup berat). Nah bagi Indonesia sendiri, apa sih siasat untuk meningkatkan minat baca? Ternyata tidak main-main, Indonesia sekarang sudah memiliki perpusatakaan tertinggi di dunia yang baru saja diresmikan oleh Presiden RI pada tanggal 14 September 2017.

Akhirnya Sabtu, 141017 (loh ternyata tepat sebulan setelah diresmikan) saya berkunjung ke Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas) di Jl. Medan Merdeka Selatan. Sebelumnya Perpusnas ini berada di Salemba dengan hanya memiliki 3 lantai. Sekarang 24 lantai! Berkunjung ke sini sangat mudah, menaiki Transjakarta jurusan Pulogadung dan berhenti di Balai Kota. Nyebrang dikit, sampai deh. Dari kejauhan tampak bangunan tinggi dengan tulisan Perpustakaan Nasional RI. So excited!!

Tampak Depan Perpusnas RI

Bangunan pertama yang dimasuki semacam museum yang berisikan foto-foto kegiatan kepresidenan Pak Jokowi dan juga beberapa ruangan menampilkan gambar-gambar bergerak yang menarik dan seperti perkenalan mengenai membaca dan aksara.

Sambutan manis sebelum masuk ke gedung bertingkat

Kemudian pengunjung akan memasuki gedung bertingkat di mana jutaan koleksi buku berada. Begitu masuk langsung dihadapkan dengan rak setinggi empat lantai lengkap dengan buku-buku pajangannya. Sangat menarik untuk berfoto di sini. Pada lobby ini juga terpampang lukisan Presiden RI yang sudah menjabat beserta dengan koleksi buku yang berbicara tentang pemimpin negara ini. Saran pertama saya, jika menjadi pengunjung pertama foto dulu daftar lantai supaya tidak bingung mau pilih lantai mana.

Pengesahan Presiden RI Joko Widodo

Melihat lukisan-lukisan ini, entah kenapa saya terharu

Melongo

Daftar lantai yang wajib kalian foto supaya tidak tersesat

Dua puluh empat lantai itu tidak sedikit ya gaes. Nah saya cuma berhasil mencicipi beberapa lantai karena jujur saya bingung, niatnya memang cuma mau lihat-lihat saja. Lantai 2 adalah tempat pendaftaran anggota Perpusnas. Pikiran saya, pengen punya kartu member Perpusnas ini. Lihat nomor antrian sekitar 200an sedangkan jika baru mengambil nomor antrian sudah di angka 600. Ya sudah akhirnya tidak jadi. Lantai 2 ini banyak sekali komputernya, bisa sambil browsing daftar buku yang ada dan juga memasukkan data untuk pendaftaran anggota. Komputer tersebut tersambung dengan website Perpusnas RI yaitu http://www.pnri.go.id/beranda/
Saran kedua saya, jika bawa ransel besar atau tas besar langsung dititip di lantai ini karena setiap lantai di Perpusnas ini dilarang membawa tas tertutup untuk masuk di kawasannya. Perpusnas menyediakan tas transparan untuk membawa barang berharga kalian.

Lantai 2 Perpusnas RI - Layanan Keanggotaan dan Informasi (serta penitipan barang)

lantai 4 - Area Pameran

Mari dimulai tour isi dari Perpusnas ini. Akses menuju tiap lantai untuk melihat dan mencari buku-buku hanya menggunakan lift. Eskalator terakhir ada di lantai 4, setelah itu harap sabar mengantri lift. Ada 5 lift sih, tapi karena lantainya tinggi ya cukup lama jeda waktu untuk lift berhenti di lantai kita berdiri. Belum lagi pas pintu lift terbuka sudah penuh. Ini untuk belajar bersabar dan mengantri. Tapi kalau mau olahraga sedikit ada tangga darurat yang bisa kita lewati.

Lantai-lantai yang saya kunjungi adalah lantai 7, koleksi anak, lansia, dan disabilitas. Tempat anak sepertinya menarik untuk dilihat ke dalam, cuma kan saya tidak membawa anak jadinya agak keki kalau harus copot sepatu dan masuk ke sana. Seberang tempat anak ada ruangan untuk lansia dan disabilitas. Saya tidak sempat foto ruangannya.

Ruang Anak

Komputer di lantai anak, sepertinya sih ada gamesnya nih

Saya juga memencet lantai 14, tempat koleksi buku langka. Begitu pintu terbuka, kemudian melongok sedikit, eh gelap. Ternyata saking langkanya, buku-bukunya tidak ada (canda, ketawalah). Mungkin lantai ini belum siap karena koleksinya masih berada di Salemba. Selanjutnya adalah lantai 16 tempat koleksi foto, peta, dan reading area. Ini enak banget ruangannya buat baca. Sepi, adem banget. Monas sudah kelihatan kecil di ruangan ini. Tiap mejanya ada katalog koleksi peta. Cocok untuk lulusan Geodesi dan Geografi nih untuk melihat koleksi-koleksi petanya.

Katalog Peta

hehe muka

Hai, Monas

Setelah 16, mari langsung loncat ke 23. Sungguh random pemilihan lantai ini. Lantai 16 berisikan koleksi mancanegara dan majalah terjilid, bukunya tentang negara-negara di dunia. Pengaturan bukunya berdasarkan nama negara. Jadi kalau mau cari cerita tentang negara Inggris, cari yang ada tulisan Inggris. Saya di sini sempat baca buku tentang Nelson Mandela, lumayan duduk-duduk baca 5 halaman. Buku yang di sini tidak semuanya berbahasa mancanegara, ada yang dengan Indonesia tapi tentang mancanegara. Ingat ya, tidak boleh bawa tas kalau tidak mau dimarahi pustakawannya (saya dimarahi wkwk). Memang benar, penjaga perpustakaan itu selalu galak. Lantai ini masih banyak terlihat rak yang kosong, mudah-mudahan cepat terisi...

lantai 16

Mari masuk ke lantai 24..... baru juga 4 langkah saya langsung ditegur satpamnya karena tas ransel saya belum saya titipkan. Jadi saya kembali deh ke lantai 2. Nah sebenarnya urutan saya mengunjungi lantai-lantai di atas tidak berurutan. Tapi yang benar adalah lantai 1,2,3,4 kemudian lantai 24. Padahal kalau mau seru bisa foto-foto di beranda lantai 24 tersebut. Tapi karena sudah kadung balik ke lantai 2 dulu, jadi saya enggan juga untuk kembali lagi ke lantai 24. Mungkin next time.

Baru segitu gaes lantai-lantai yang saya kunjungi. Padahal masih banyak banget kan yang bisa dilihat dan itu bikin penasaran. Ada di daftar lantai tulisan koleksi monograf. Apa pula ya monograf itu? Masih banyak yang perlu dijelajah. Lokasi ini cocok bagi kalian yang sedang mencari referensi untuk pembuatan tugas kuliah atau skripsi atau thesis. Kalau mau baca-baca cantik juga cocok, mencari ketenangan. Ya moga-moga saja pas kalian berkunjung, tidak banyak yang berisik. Dengan adanya perpustakaan ini diharapkan masyarakat sekitar Jakarta tersadarkan untuk semakin sering membaca. Tidak hanya melihat gadget saja kerjaannya atau nongkrong di warung kopi berjam-jam. Ingat, buku adalah jendela dunia. Siapa tahu kan, dari kunjungan iseng-iseng untuk foto-foto di lokasi ini bisa sambil baca judul-judul yang menarik, kemudian semakin terbiasa kembali untuk membuka buku.

Berterima kasih kepada Pak Presiden idola Joko Widodo yang berhasil merealisasikan perpustakaan sangat menarik. Semoga jasa bapak dan seluruh staf dapat memberikan dampak positif bagi bangsa ini. Seperti yang terlihat di website Perpusnas RI: Indonesia Gemar Membaca. Amin!

“Books are the quietest and most constant of friends; they are the most accessible and wisest of counselors, and the most patient of teachers.”
― Charles William Eliot

Brigitta Yolanda P. P.

Brigitta Yolanda P. P.

Not so talkative, but I try to write all my talks. Need coffee everyday and crazy about 'senja'. -b.yolanda28@gmail.com-

Read More