/ life

Naik-naik ke Puncak Gunung

Pernah kubilang, kalau laut adalah pemandangan favoritku. Apalagi jika ditambah dengan senja. Cukup duduk manis di atas pasir, kemudian melihat langit berwarna oranye dan matahari semakin tenggelam di cakrawala. Bahagia.

Alasan lainku adalah aku terlalu enggan untuk naik gunung. Enggan karena aku memiliki massa badan yg tidak ringan (hahaha). Enggan karena aku tidak atletis. Enggan karena aku tidak lincah.

Sesungguhnya selama hidup saya ini selalu bilang ke orang-orang: "ga bakal dah gw naik gunung.." atau "gile ya sampe sekarang belom pernah ngerasain naik gunung." Alasannya seperti yang dikatakan di atas, susah melakukan kegiatan ekstrim itu, apalagi saya takut turunnya. Ngebayangin ga bisa nahan berat badan inilah. Bisa saja menggelinding. Suer deh ngerepotin orang banget, waktu itu saya naik turun jalan berliku menuju sebuah curug di dekat Ketep, Magelang yang megangin saya banyak. Belum di tempat-tempat lainnya. Segala pundak, tangan orang entah dicubit, ditarik kaosnya buat saya pegangan semua deh. Untung bukan dijambak rambutnya temen. Nah ini apalagi mau naik gunung.... wkwk. Atau nanti di hutan bisa ketemu makhluk u*** yang nyeremin itu.

Tahun ini saya sudah terlalu sering mendengar cerita orang-orang yang naik gunung, terutama dari teman kantor saya yang kecil mungil, tapi tangguh. Sejak awal tahun (atau akhir tahun lalu ya, saya lupa) Suci, namanya, ikut komunitas pendaki gunung. Dari situ dia punya banyak kegiatan yang berhubungan dengan pendakian atau kegiatan alam lainnya. Bayangkan tahun ini saja sudah naik sekitar 5 gunung (Gede, Sindoro, Sumbing, Semeru, Kerinci, waw gile yaa..). Katanya sih mau kejar setoran sebelum tahun depan doi pengennya nikah (hahah aminn). Setiap balik dari turun gunung selalu kasih oleh-oleh foto yang luar biasa! Apalagi ceritanya. Diakui memang pemandangan gunung lebih adem untuk dilihat. More magical ya. Nih boleh lihat instagram teman saya:

Terus saya mupeng. Cuma ya gitu..sama sekali tidak percaya kemampuan sendiri. hiahahah

Terus lihat juga instagramnya influencer @Amrazing yang baru-baru ini naik Rinjani. Doi juga penggemar laut, tapi nyoba juga daki gunung. Dia cerita banyak di instagramnya gimana perjalanan naik gunung untuk pemula dengan membawa porter dan bagaimana tersiksanya di perjalanan. hmmmmmmm.....

#LetMeTellYouAStory . This is the second part of i don't know how many parts there will be. 😂 . Aku adalah manusia yang beruntung. Banget. Serius. Ngeliat layar kamera pecah gitu aku bukannya stress malah ngakak kenceng banget, dan mikir, ah ya udah, kalau motret dari electronic viewfinder aja. Eh ternyata dipinjami kamera yang sama oleh mb tersayang @poeticpicture. Beberapa hari setelah pulang, aku dapet #Olympus #OMDEM1MarkII. Ahzek, kan, jadi orang yang ketawa dan gak gampang setress? 😝 anyway. . Rencana: naik #Rinjani via #Sembalun. Turunnya, dari #Senaru. Di pagi itu, kami memulai perjalanan dengan hati riang. View dari gate ke pos 1 aja udah bagusssss banget! Dari Instagram, aku sudah diingatkan bahwa bagian terberat adalah di 7 Bukit Penyesalan. Aku sesungguhnya penasaran, kok namanya kayak gitu, ya? And omg... . Tiba di pos 2 lalu makan siang dan istirahat, lanjut ke pos tiga dan istirahat lagi sampai pukul 3 sore, aku masih merasa bugar. Pegal, tapi jalurnya masih lumayan landai, deh. Gak terlalu heboh. Begitu memulai perjalanan dari pos tiga mengarungi 7 Bukit Penyesalan, baru deh perjuangan yang sesungguhnya dimulai. . DEMI APAPUN ITU BUKITNYA NANJAAAAAK TERUSSSS DAN GAK ABIS-ABIS YA ALLAH HAMPIR NANGIS! 🤣 . Rencana sunsetan di #plataransembalun terpaksa dicoret-coret. Kami tiba pukul... 19.30. Yep! Artinya di bukit ketujuh, aku harus menggunakan senter dari hape untuk merangkak naik karena sudah gelap total. Berkali-kali aku meyakinkan diriku: sedikit lagi, it's gonna be worth it, sedikit lagi, ayo, elo bisa, lex. Bisa.. bisa... dan hampir pingsan saking senengnya ketika tiba di plataran sembalun 😭😭 . APALAGI PAS NYAMPE LANGSUNG DISAMBUT MILKYWAY. YA ALLAH. NANGIS! 😂 . Bersambung . #lombok #aMrazingLombok

A post shared by Alexander Thian (@amrazing) on

Tapi itu semua terbayarkan dengan viewnya emejinggggg... Rasa penasaran makin menjadi.

Waktu itu sudah ada ajakan naik Gunung Gede, dengan teman mamak yang tiap bulan naik gunung mengajak anak-anaknya. Para bapak-bapak itu mengajarkan anak-anaknya yang sudah menginjak remaja untuk mengenal alam, tidak cuma mall saja. Jadi diusahakan tiap bulan mendaki gunung. Merasakan bermalam di Surya Kencana dengan suhu super dingin, mulai ke puncak jam 3 pagi dan sampai di atas melihat matahari terbit. Sudah dibilangin dijamin aman karena bawa porter. Tapi lagi-lagi nyali masih ciut, akhirnya gak jadi (karena babeh sendiri bilang medannya lumayan dah). Oh ya just info, emak babeh termasuk tukang naik gunung jaman dulu. Babehku katanya sudah muncak Gede 6x. Mamakku sempat hilang saat perjalanan ke Gede, beruntung tidak hilang beneran ya. Saya mungkin tidak bisa menulis ini (ketok2 meja). Lah anaknya sendiri naik tangga ngos-ngosan T_T

Kesimpulannya, mau lihat sendiri keagungan Tuhan. Tidak cuma diceritakan saja. Merasakan sunrise yang terindah. Bukannya mau mengkhianati sunset terindah sekalipun sih, tapi memang ingin merasakan petualangannya. Terus mau mendapatkan jawaban dari pertanyaan:

Buat apa cape2 naik, kalau ternyata harus turun lagi?

Tapi alat-alatnya mahal. wkwkwk.
Tapi ga mau ngerepotin orang apalagi temen. Tapi takut rewel.
Banyak tapinya, terus ga berangkat-berangkat.
Harusnya mulai sering olahraga supaya langsung siap kalau ada yang ngajak lagi. ya kali yaa....

Apa iya memang mendaki gunung akan menjadi salah satu pengalaman yang tidak mungkin saya rasakan seumur hidup?

Brigitta Yolanda P. P.

Brigitta Yolanda P. P.

Not so talkative, but I try to write all my talks. Need coffee everyday and crazy about 'senja'. -b.yolanda28@gmail.com-

Read More