/ travel

Mengajar di Sumba Bersama 1000 Guru

Akhir-akhir ini Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur sedang naik daun namanya. Pulau yang letaknya berada cukup di selatan dari wilayah Indonesia ini mulai semakin terjamah dengan pengunjung. Ditambah lagi beberapa film Indonesia mengambil setting tempat di pulau ini, sebut saja Susah Sinyal garapan Ernest Prakasa, Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak yang diperankan oleh Marsha Timothy. Hal ini yang membuat semakin banyak masyarakat yang penasaran dengan keindahan yang dimiliki oleh Tana Humba ini.

Pada tanggal 9-12 Februari 2018 saya dan teman saya, Brigita Ratri, berkesempatan mengunjungi Pulau Sumba. Traveling ini terasa sangat spesial karena kami tidak hanya pergi jalan-jalan, tapi juga dibarengi dengan kegiatan teaching di salah satu sekolah di Sumba. Kok bisa ada kegiatan teachingnya? Hal ini karena kami berdua mengikuti trip yang diadakan oleh @1000_guru. 1000 Guru merupakan sebuah komunitas yang diprakarsai oleh Kak @jemingadiono. Komunitas ini menjaring anak-anak muda untuk berperan aktif dan terjun langsung ke sekolah-sekolah, terutama tingkat SD (Sekolah Dasar) di daerah-daerah yang masih membutuhkan perhatian khusus dan bantuan. Untuk tahu lengkapnya tentang komunitas ini bisa klik link berikut ini ya..

Pada postingan ini saya akan khusus menceritakan bagaimana pengalaman saya dan teman-teman saya mencoba mengajar dan bersenang ria dengan adik-adik di Sumba. Mengenai lengkapnya perjalanan singkat saya di Sumba, akan saya bagikan di postingan selanjutnya ya :)) (yang mudah-mudahan tidak membutuhkan waktu lama untuk ditulis eheh)

Kami berkesempatan berbagi dan mengajar di SD Negeri Reda Meter, Sumba Barat Daya, Kodi Utara, Sumba. Lokasi sekolah ini cukup jauh dari jalan raya yang beraspal, mobil kami harus melewati jalan setapak untuk sampai di sekolah ini. Sesampainya di sana kami disambut dengan tarian sederhana dan alunan musik yang dibawakan oleh murid-murid dan dibantu dengan guru-gurunya. Terlihat dari dalam mobil, sudah banyak adik-adik yang berkumpul dan mengantri menanti kami. Mereka menggunakan baju seragam merah-putih yang berwarna tanah. Beberapa ada yang menggunakan baju pramuka yang juga sudah tidak bagus lagi warnanya. Ketika turun mobil, rasanya saya ingin mewek melihat kondisi mereka. Tapi saya malu, jadi saya tahan sekuat tenaga. Saya lihat juga sebenarnya beberapa yang meneteskan air mata melihat keceriaan mereka. Kondisi kami jauhhh berbeda dengan mereka, sebagian besar dari kami menggunakan sepatu bagus dan tentu saja baju yang bersih warnanya. Melihat secara langsung adik-adik ini menyadarkan betapa pusingnya menjadi Presiden Indonesia. Bagaimana tidak, beliau pastinya memikirkan bagaimana cara meratakan pendidikan, ekonomi, dan sebagainya di daerah-daerah terpencil seperti ini.... Ini masih satu lokasi di satu pulau, Indonesia masih memiliki belasan ribu pulau lain kan....

SD Negeri Reda Meter dan Sambutan Khas Sumba

Baiklah, lanjut. Setelah kami disambut dengan kesederhanaan yang tak ternilai itu, Kak Jemi pun membuka kegiatan kami dengan beberapa nyanyian anak-anak. Dengan lantang dan nyaring, mereka pun ikut bernyanyi. Beberapa terlihat wajah malu-malu melihat kami. Beberapa juga terlihat bergairah dengan kedatangan tamu jauh dari Jakarta. Kak Jemi bertanya, Jakarta di manaaa? Adik-adik tersebut menunjuk asal ke udara sambil kebingungan ngomong di situuu... :''') Setelah bernyanyi, kami pun berkenalan satu-persatu dengan menyebutkan nama dan asal. Peserta ke Sumba ini ada sekitar 40 orang, 30 orang merupakan peserta yang mendaftar secara sukarela sisanya merupakan perwakilan dari suatu perusahaan yang juga berkontribusi dalam memberikan sumbangan dalam kegiatan ini. Walaupun dengan panas dan terik sekali, tetapi mereka sangat bersemangat dan selalu berteriak nyaring menyahut nama-nama kami.

Senyum Sumba

Setelah perkenalan, ada sambutan dari kepala sekolah SD Reda Meter, beliau bernama Pak Petrus dan mengatakan bahwa sekolah ini baru berdiri selama 6 bulan. Hal ini cukup hebat, karena ini merupakan SD Negeri dan mampu berdiri dengan jumlah murid yang cukup banyak. Beliau sudah menjadi guru selama belasan tahun dan dipercayai menjadi kepala sekolah di SD ini. Walaupun kondisi bangunan yang masih belum layak, tapi Pak Petrus mengatakan anak-anak selalu bersemangat untuk menimba ilmu. Ditambah dengan kedatangan kami, mereka tidak sabar untuk menyambut kami. Setelah sambutan, akhirnya sesi mengajar per kelas pun dimulai.

Pak Kepala Sekolah dan Kak Jemi Ngadiono

Sistem dari 1000 Guru ini adalah akan membagi menjadi 6 kelompok. Masing-masing memegang satu kelas dengan satu tema tersendiri. Tiap kelas akan memiliki tema yang berbeda, ada yang tentang organ tubuh, cita-cita, alam semesta, dan sebagainya. Saya mendapatkan mengajar kelas 4 dan tema yang diajarkan adalah Peta Indonesia. Kami harus menyiapkan bahan ajar dan peraga yang memudahkan mereka memahami yang diajarkan. Sudah pasti Peta Indonesia besar yang kami bawa dan langsung kami tempel di papan tulis. Adik-adik yang kami ajar cukup banyak, yaitu 41 orang. Berdasarkan info, kemampuan anak kelas 4 di Sumba pasti akan berbeda dengan anak kelas 4 di Jakarta. Melihat bentuk Pulau Indonesia yang unik saja mungkin mereka belum pernah. Jadi pengajaran yang kami bawakan dibuat sesederhana mungkin.

Kegiatan Mengajar Peta Indonesia Kelas 4

Di dalam kelas mereka diberikan name tag yang diikatkan di kepala dan untuk menulis nama mereka pun belum lancar. Setelah diikatkan satu-satu pengajaran kami pun dimulai... ...dan benar saja 5 pulau besar di Indonesia saja mereka belum tahu. Kelas 4 ini diajar oleh 8 orang dan dibagi masing-masing menjelaskan pulau-pulau besar dan bentuk-bentuknya kepada adik-adik ini. Tidak lupa kami juga menjelaskan, di mana sih Sumba itu. Kami tanamkan juga kepada mereka, bahwa mereka harus bangga menjadi anak Sumba. Agar tetap semangat menjadi anak Sumba yang bahagia. Mereka sangat pemalu.. Tapi makin lama beberapa ada yang berani untuk maju ke depan untuk menjawab pertanyaan dan memimpin teman-temannya untuk bernyanyi. Selain itu dengan lantang juga beberapa dari mereka menyanyikan Indonesia Raya. Ada rewards bagi mereka yang berani dan reward ini juga dibagikan rata kepada mereka.

Keceriaan bersama adik-adik Sumba

Pengajaran ini berlangsung selama kurang lebih 1 jam di dalam kelas, kemudian kami membagi lagi adik-adik kelas 4 itu dalam kelompok kecil untuk main ke luar kelas dan menuliskan cita-cita apa yang akan mereka tuju. Saya berkenalan dengan Magda, Antri, Tina, dan Ferdi. Pekerjaan apa yang nantinya mereka ingin lakukan saat dewasa itu sangat sedikit yang mereka pahami, paling sering bertemu mungkin hanya guru. Kebanyakan orangtua mereka bekerja di ladang, sehingga mereka bingung ingin menjadi apa. Kebanyakan menjawab guru, namun untuk pria menjawab menjadi polisi dan tentara :''D Semoga mereka terus semangat dan cita-cita mereka tercapai. Nama dan cita-cita mereka ditulis dalam kertas daun dan ditempelkan pada pohon impian yang akan ditempelkan terus di depan kelas, sebagai pengingat mereka bahwa mereka memiliki impian yang tentunya harus digapai dengan usaha yang giat. Mereka juga masa depan Indonesia yang cerah, yang harus bisa membawa nama bangsa ini. Semoga...

Total kami berinteraksi dengan adik-adik ini tidak lebih dari 2 jam, tapi kami berharap mampu memberikan sedikit inspirasi bagi mereka untuk tetap semangat dan giat belajar. Selain bahan ajar, terdapat juga sumbangan berupa tas yang berasal dari perusahaan yang ikut dalam trip ini. Dalam tas tersebut ada susu, makanan ringan yang dibagikan. Setelah itu kami pun berfoto ria bersama-sama. Panas menyengat ternyata sama sekali tidak mengurangi semangat mereka. Bahkan kakak-kakak dari Jakarta ini saja sudah mengeluh bahkan mau pingsan rasanya terkena paparan matahari (termasuk saya sudah lepek bener muka ya). Dari mereka kami belajar banyak yang harus disyukuri dalam hidup ini. Bersyukur merasakan kemudahan apa-apa di Jakarta, walau sumpek tapi kondisinya sangat berbeda dari mereka. Traveling and Teaching yang diadakan oleh 1000 Guru ini menurut saya kegiatan yang sangat bermanfaat bagi pemuda-pemudi yang ingin menyumbangkan tenaga dan dana bagi adik-adik yang berada jauh di pelosok Indonesia. Selain kita dapat berbagi, kita juga dapat melihat Indonesia lebih dalam lagi. Indonesia menawarkan alam yang sangat indah, namun banyak sisi lain yang masih harus diberikan perhatian khusus. Terutama anak-anak ini, karena merekalah masa depan Indonesia, masa depan bangsa.

Peserta Traveling and Teaching 1000 Guru Sumba dan Senyum-senyum Sumba

"Gantungkan cita-cita mu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang." - Soekarno

Brigitta Yolanda P. P.

Brigitta Yolanda P. P.

Not so talkative, but I try to write all my talks. Need coffee everyday and crazy about 'senja'. -b.yolanda28@gmail.com-

Read More