/ travel

Semakin Hitam di Pulau Pahawang

Setelah sebelumnya adalah cerita tentang Teluk Kiluan dan alam sekitarnya, mari lanjutkan cerita perjalanan di Pulau Pahawang dan Kota Bandar Lampung.

Kami mulai siap untuk melanjutkan perjalanan sekitar pukul 09.00 (kalau tidak salah). Rencana kami adalah bermain air lagi di Pulau Pahawang. Menurut peta, perjalanan dari Teluk Kiluan menuju dermaga untuk ke Pahawang sekitar 2 jam.

Jadi untuk akses ke Pulau Pahawang kami harus menyewa perahu terlebih dahulu di Dermaga Ketapang namanya.

Nah, selama perjalanan tentu kami mengambil foto-foto sekeliling. Kami melewati perkampungan yang rumahnya masih rumah semi panggung. Lalu ada pantai yang cukup bersih dengan degradasi warna yang apik. Namanya juga tukang foto (padahal aslinya ya memang demen nampang di kamera), kami menepikan mobil dan turun untuk mengabadikan gambar. Cuaca cukup terik, sejujurnya paha sudah terasa panas karena terbakar saat berjemur mencari lumba-lumba. Tapi saya tidak hiraukan :'')

pantai tepi jalan

Akhirnya kami pun sampai di perkampungan, tempat dermaga-dermaga yang menyewakan transportasi menuju Pahawang. Kami parkir di dekat Dermaga 4. Kebetulan saya sudah pernah ke Pahawang ini, masih cukup ingat tempat sewa kapalnya. Begitu sampai, kami langsung ditawari oleh penduduk sekitar untuk sewa kapal. Dia menawarkan Rp 1,2 juta, langsung berangkat. Saya langsung bilang : biasanya Rp 700ribu. Tapi si doi tetep ngotot dengan alasan kapal susah karena ramai. Yasudah akhirnya kami memutuskan untuk ke arah dermaga saja, siapa tahu ada kapal lainnya.

Sampai di sana, ternyata memang kondisi ramai dan banyak yang belum berangkat. Namanya bejo sih, iseng tanya ke pengunjung yang sekeluarga sedang menunggu kapal dan bertanya apa bisa join. Langsung menghubungi tukang perahunya, tawar-tawar harga akhirnya kami dapat harga fix. Awalnya keluarga yang kami tebengi sewa kapal seharga Rp 700rb (bener kan wk), dengan tambahan kami jadinya Rp 1juta. Kami kebagian per orang Rp 100 ribu. Bejo sih :D Dermaga juga menyediakan sewa alat snorkeling, 1 set Rp 60ribu lengkap dengan fin. Setelah 10 menit melakukan deal, kapal sudah siap. Padahal keluarga yang kami tebengi tersebut sudah menunggu kapal dari pukul 10 pagi. So cool, right?

Pulau Pahawang

Perahu pun membawa kami ke laut dan berhenti di spot snorkeling dekat Pahawang Besar (aih lupa sih sebenarnya di mana). Saya langsung nyebur. Pemula, jarang-jarang snorkeling, dan takut kebawa arus, saya menggunakan life jacket. Masih jernih airnya dan bisa lihat ikan-ikan berenang juga. Ikan belang-belang. Tentu momen saya berenang di laut ini bisa diabadikan. wkwk.
akhirnya punya foto beginian, setelah (baru) beberapa kali nyelem. maapin muka antagonis

Setelah video dikit-dikit dan gelagepan di laut, kami pun pindah spot ke Pahawang Kecil, di mana terdapat pasir timbul. Sayangnya pas kami sampai rameeeeee banget, jadi pasir timbulnya tidak terlihat. Padahal saat saya ke sana pertama kali, viewnya cukup bagus dan very instagramable. Boleh dilihat di instagram saya. Nah di sini kami foto sedikit-sedikit karena sudah cape liat banyak orang, masih belum move on dari Pulau Kelapa sebenarnya yang lebih jernih. hehehe. Untuk itu, kami akhirnya minum (dan makan) kelapa langsung dari batoknya tanpa gula. Itu rasanya.....mulai dari lidah sampai kerongkongan menyegarkan jiwa raga. Daging buah kelapa yang tebal (ada yang lembut juga) juga mengenyangkan perut kami. Warbiasak segernya! Srruuuppsss.

Setelah kenyang, kami kembali ke perahu dan menuju spot snorkeling lainnya, dekat Pahawang Besar. Kali ini saya mencoba menyelam tanpa pelampung, enak juga jadi lebih bebas rasanya. Nah sebenarnya di spot ini ada tulisan Pahawang di dasar laut, tapi entah ini perahunya markirnya jauh jadi saya dan teman-teman saya tidak melihat tulisan itu. Padahal keluarga yang satu perahu lihat sih, cuma mereka berenangnya jauh. Kami di situ-situ saja... ga gaul. Lumayan dapat screenshoot saya berenang yang cukup kece nih.

nyelem sambil merem

Tempat parkir kapal ini dekat dengan tepian Pahawang Besar. Para pria dengan jantannya pun berenang ke tepian dari tempat perahu parkir. Padahal jaraknya juaauuhh.. ga jauh sih, tapi kan laut lebih cape. haha tapi mereka pun sampai tepian dan gaulnya lagi, balik ke kapal lagi, padahal perahu juga akan mampir pulau tersebut. Sampai di tepian Pahawang Besar, kami turun dari kapal dan duduk-duduk di atas pasir lagi. Foto...tentu ya :P
Firman habis beli pulau. Ngopi di pinggir maupun dalam laut itu nikmat. hahaha

Waktu menunjukkan pukul 16.59 (oyea), akhirnya kami menuju dermaga dan perjalanan terasa semakin istimewa karena ditemani oleh matahari yang akan tenggelam di ufuk barat. Sebagai penikmat senja (karena senja tidak pernah sederhana), saya cukup heboh mencoba dapat foto matahari bulat sedikit kekuningan. Belum tenggelam benar, matahari masih cukup cerah, tapi dengan bantuan filter kamera saya bisa mendapatkan foto senja yang cukup oke he he. Bersyukur banget selama 2 hari hujan tidak turun dan perjalanan ditutup dengan matahari yang seperti tersenyum juga kepada kami. me likey! :)
dadah dadah ~

Kota Bandar Lampung dan Pulang

Setelah sampai di dermaga kami langsung mandi. Saat saya mandi, saya menengadah ke bolongan kamar mandi dan melihat langit berwarna merah. Dalam hati mikir, yah kelewat sunset cakep. Tapi it's okay, badan juga sudah gatel-gatel.

Setelah beberes dan badan wangi sedikit, kami melanjutkan perjalanan ke Bandar Lampung! Perjalanan sekitar 2 jam kurang dan lancar. Kami langsung mencari makan di sebuah restoran. Terus habis makan cari obat buat kaki saya yang terbakar karena ternyata merah-merahnya parah dan rasanya juga sudah ga karuan sih perihnya -_-

Akhirnya sampai di POP! Hotel di Tanjung Karang. Menginap di sini dengan harga sekitar Rp 260rb booking via Traveloka. POP! termasuk budget hotel yang cukup oke, walau memang sangat minimalis dengan breakfast yang biasa saja. Untuk tidur dengan nyenyak sudah puas, AC dingin pol!

Keesokan harinya, hari Senin adalah waktu untuk pulang. Pagi hari saat lihat view dari jendela kamar, ternyata viewnya laut biru, perkotaan, dan ada bukit. Bandar Lampung memang unik sih, ada perbukitan tapi panas karena dekat dengan laut. Sebelum menuju pelabuhan, kami mampir di tempat oleh-oleh untuk mencari camilan favorit, yaitu keripik pisang. Keripik pisang yang terkenal itu merk Yen-Yen, silakan search ya gaes. Ada 2 toko di tempat oleh-oleh tersebut, yang punya adik-kakak tapi sepertinya malah saingan. But well, yang penting dapet keripik pisang oh dan kopi lampung, daaaann kerupuk kemplang he he.

Oleh-oleh sudah di tangan, langsung cus ke Pelabuhan Bakauheni. Sampai di Bakau, keberuntungan masih berpihak karena perahu masih stand by. Padahal kalau dipikir waktu keberangkatan kapal tidak terlalu diperhitungkan sebenarnya. Sampai di kapal, kami juga sempat berfoto ria (tetep) karena dek kapalnya bagus, walaupun memang panas ya.
ntabs

Terima Kasih ~

haha bingung mau kasih sub judul apa, yang pasti liburan dengan persiapan super singkat ini terbilang cukup sukses. Terima kasih kepada ari dan teman-temannya yang sudah jadi fotografer untuk saya dan fian. Sehingga menghasilkan foto dan video dengan total size 17GB yang okee dokeyy! Disponsori oleh Avanza merah (lagi), kaos couple merk Indomaret, dan pihak-pihak lain yang tidak disebutkan. Semoga dipertemukan dengan waktu dan lokasi berbeda untuk berlibur lagi!

Life is a trip, plan your next vacation - Matthew E. Fryer

(wkwk quote-nya, balik nguli dulu ah ~~)

Brigitta Yolanda P. P.

Brigitta Yolanda P. P.

Not so talkative, but I try to write all my talks. Need coffee everyday and crazy about 'senja'. -b.yolanda28@gmail.com-

Read More