/ movie

Review Film Pengabdi Setan 2017

Saya memang penggemar film, tetapi untuk film horror (ataupun thriller) saya harus berpikir dua kali untuk menontonnya. Lemah. Mungkin sebenarnya hanya lebih karena parno dari diri saya sendiri saja yang suka kagetan ketika suaranya mendadak kenceng atau ketika muncul muka-muka aneh tiba-tiba. Tapi ketika hyped sebuah film horror Indonesia muncul sejak pertengahan tahun, saya sangat penasaran dan berkata pokoknya kudu nonton dan ikut merasakan kengerian bersama penonton lainnya.

Sebelum menonton film Indonesia ini saya juga menonton IT, di mana 70% film saya tutup muka pake pashmina dan telinga ditutup. Tapi film Indonesia yang satu ini pokoknya harus bisa saya tonton, entah gimana caranya. Nah, saat saya berkunjung ke Yogyakarta dan bertemu dengan teman saya, salah satu orang terhits se-Jogja @indraabhimanyu, dia mengajak saya nonton Pengabdi Setan. Bukannya diajak nongkrong di tempat instagramable, saya malah diajak kegiatan yang sudah biasa di Jakarta (apa dah). Tapi saya pun tetap mengiyakan, kebetulan belum ada janji mau nonton sama siapa (sama siapa hayooo ga ada juga wkwk).

Pengabdi Setan, judul film horror yang gaungnya sudah terdengar dari bulan-bulan lalu. Film ini merupakan besutan dari Joko Anwar, sutradara yang memiliki aliran sendiri sekaligus selebtwit. Jika melihat daftar film Joko Anwar, ternyata saya sudah menonton beberapa film beliau yaitu Pintu Terlarang, Modus Anomali. Semuanya memiliki jalan cerita yang tidak biasa. Horor dan thriller yang berbeda dibandingkan tipikal film Indonesia pada umumnya.

Film Pengabdi Setan ini merupakan film remake, originalnya sudah tayang 37 tahun yang lalu. Saya belum menonton film originalnya dan tidak tahu jalan cerita film ini. Suasana mencekam sudah dibangun dari awal film. Dengan settingan tahun 80an, tone warna yang suram vintage makin bikin suram. Terlihat Tara Basro sangat eksotis, saya yang perempuan saja gemes lihatnya gimana yang cowok ya. Jadi cerita ini adalah tentang keluarga yang terdiri dari Bapak, Ibu, dan 4 orang anak bernama Rini, Tony, Bondi, dan Ian. Oh ya, tambah Nenek ding. Sesimpel itu nama-nama tokohnya kan. Kengerian yang diberikan tidak simple.

Keluarga

Ibu adalah mantan penyanyi kondang, tapi sudah sakit dan tidak memiliki penghasilan lagi. Sedangkan Bapak juga banyak hutang. Diceritakan untuk makan saja mereka hanya makan telor dan mie instant dengan banyak micin setiap hari. Sakitnya Ibu tidak wajar. Hampir semua anaknya ngeri sendiri melihat ibunya tidur dengan mata nanar ke langit-langit. Cuma Tony yang rajin menyisiri rambut Ibu yang sudah tidak lembut lagi. Selanjutnya…. tonton sendiri. Bagaimana Ibu meninggal mendadak, kemudian mereka malah ditinggal sama Bapak entah ke mana. Setelah itu terror demi terror mendatangi keempat anak tersebut.

Jalan cerita film ini sangat mengalir, penonton akan dibawa untuk menerka-nerka siapa sesungguhnya biang kerok dari terror yang terjadi di rumah tersebut. Penonton sudah pasti sangat gemas melihat tingkah laku anak bontot, Ian. Penonton akan diberikan beberapa teori yang dibangun dari beberapa tokoh tambahan lainnya yaitu Pak Ustadz, anak pak ustadz (lupa namanya), dan sahabat Nenek yang memiliki quote andalan, yang sudah terkenal di kalangan netizen:

"Karena kami terlalu dekat, kami tidak pacaran."

Mau ngomongin jumpscares-nya? Jangan sama saya. Sudah pasti saya takut. Tapi memang bunyi bel itu merupakan pertanda akan ada sesuatu (well hei, even I wrote this gw masih merinding bayanginnya). Pokoknya siang berasa cepet banget, tiba-tiba sudah malam lagi. Nih ya, misal kita sudah tahu bakal ada sesuatu muncul, tapi tetap saja loh kaget. Cuma memang saya anaknya parno-an banget sih. Jadi ya film ini sukses membuat saya mukul-mukul teman saya. Duduk di kursi pun ga nyaman, rasanya mau kabur. Hebatnya film ini diselingi dengan jokes yang cukup membuat haha hehe setelah arrrrghhh arrggghhhhhhh…. Seru menonton di kota mahasiswa adalah penontonnya banyak yang bawel (maklum anak mudoo), pada berisik. Tapi berisiknya lucu, saya dan kawan saya malah kebanyakan ketawa mendengarkan ocehan mereka.

Ibu sudah bisa bangun?

Yes, film ini memiliki plot twist. Sudah diceritakan bahwa memang banyak teori yang dibangun di film ini, jadi penonton dibawa asik untuk memikirkan kelanjutannya. Tidak cuma dicekokin, terima jadi oleh Joko Anwar. Kalau mau baca beberapa teori tentang film ini bias baca reviewnya Mbah Cenayang ini ya.

Sound di film ini sangat membangun kengerian sih. Pas! Pas bikin kagetnya. Jangan lupa mendengerkan lagu Kelam Malam, dinyanyikan oleh Ibu ;)

Kemudian akhir dari film ini sih yang membuat para penonton terdiam sampai lampu bioskop menyala. Karena memang banyak yang kurang paham. Berikut kurang lebih percakapan saya dengan teman saya:
B: ngerti ga lu itu maksudnya apaan?
I: kagak.. kagak ngerti sama sekali… (trus ketawa ngakak kayak dibegoin sama filmnya)

Overall saya kagum dengan jalan cerita dari film ini walaupun lagi-lagi sebagian besar saya menonton sambil menutup mata dan menutup telinga. Sisanya mengintip. Gak percaya aja bakal dikasih beberapa plot twist dari film ini.

Oh ya, Bapak di sini kece banget..

lihat kacamatanya, very trendy

Untuk yang sudah menonton, pasti ingat bagian Fachri Albar menari dengan seorang wanita setelah menaruh buah-buah merah di dalam toples. Saya juga punya di rumah ...... :'D

ps: ini berani banget saya masang foto Ibu di sini ampun >.<
ps-2: Berdoalah dan memohon kepada Tuhan saja :D
ps-3: Pengabdi Setan mendapatkan 13 nominasi untuk FFI gaes, pengumumannya di tanggal 5 Oktober ini. gils ya....

Brigitta Yolanda P. P.

Brigitta Yolanda P. P.

Not so talkative, but I try to write all my talks. Need coffee everyday and crazy about 'senja'. -b.yolanda28@gmail.com-

Read More