/ review

Ziarah, Pencarian dan Keteguhan Mbah Sri [review with spoiler]

Ziarah, film karya BW Purba Negara, sutradara asal Yogyakarta telah memenangkan dan menjadi nominasi di beberapa penghargaan lokal maupun internasional. Daftarnya ada di sini. Sejak 18 Mei 2017 film ini tayang di bioskop-bioskop komersial. Uniknya di Jakarta untuk XXI hanya ditayangkan di Blok M Square dan TIM. Setelah membaca beberapa review, saya beranikan untuk menonton. Padahal Critical Eleven yang bintang utamanya Reza Rahardian saja saya belum sempat nonton. hmmm. Saya akan bercerita sedikit tentang film ini dan dengan spoiler. Mohon diijinkan karena Ziarah ternyata memberikan ending yang tidak terduga.

Mbah Sri

Film ini memiliki tokoh utama bernama Mbah Sri, diperankan oleh Mbah Ponco asli Gunung Kidul yang dikatakan berumur 90 tahun. Mbah Sri ini memiliki kenekatan untuk mencari kijing^ dari suaminya, Pawiro Sahid, yang pamit untuk membela negara di jaman Klas Loro^. Mbah Sri selama ini selalu nyekar^ ke makam dengan tulisan di nisannya tanpa nama, namun karena diberi info oleh Mbah Redjo bahwa makam Mbah Pawiro bukan di situ, ya Mbah Sri kepo dan cari tahu letak makam suaminya tersebut.

Naik bis sendiri, tidak bisa membaca Google Maps, tanya orang sana-sini, jalan kaki di jalan bebatuan dilakukan oleh Mbah Sri demi bertemu dengan makam Mbah Pawiro. Itu cerita utamanya. Untuk cerita sampingannya adalah tentang cucu Mbah Sri, yang saya lupa namanya. Pria dewasa yang sedang bermaksud melamar perempuan, namun karena orangtuanya sudah meninggal dan keluarga satu-satunya hanya Mbah Sri, ya mau tidak mau si cucu ini harus mencari Mbah Sri yang mendadak hilang itu. Sebagai info, Mbah Sri pergi tanpa pamit.

Perjalanan cucu dan Mbah Sri ini sering saling berselisih jalan. Tidak pernah bertemu tiba-tiba, tapi keduanya mendapatkan info yang kurang lebih sama. Sempat mendapatkan info yang sama-sama salah, hingga disasarkan ke waduk yang dahulunya adalah sebuah desa yang tenggelam. Bertemu dengan veteran-veteran jaman perang dahulu dan mereka dengan berapi-api menceritakan tentang kondisi perang dan jasa Mbah Pawiro. Pada akhirnya Mbah Sri mendapatkan nama Ki Husodo yang konon pernah berjuang berasama suaminya. Namun Mbah Sri hanya bisa dipertemukan dengan anaknya Ki Husodo ini.

Anaknya Ki Husodo ini bilang ada nama Pawiro di sebuah pemakaman, ternyata salah nama. Tapi Mbah Sri tetap nekat ke arah makam tersebut. Nah, tapi si anak Ki Husodo ini malah berpesan kepada warga sekitar kalau ada orang tanya tentang makam tersebut (lupa namanya -_-), harap diinfokan arah yang salah. Kemudian Mbah Sri pun sampai di makam yang salah dan dibujuk oleh anak Ki Husodo ini agar pulang saja. Pesannya begini (kurang lebih intinya ini):

Tidak perlu mencari makam atau dimana jasad pahlawan yang sudah meninggal. Lihat saja Tanah Indonesia yang merdeka ini. Berkat jasa mereka, kita merdeka.

ini Mbah Sri dan anaknya Ki Husodo

Mbah Sri pun manut :)
Dilalah ya pengantarnya Mbah Sri malah mengantarkan Mbah Sri ke makam yang benar, setelah Mbah Sri cerita tentang perjuangannya ini. Walaupun memang Mbah Pawiro sudah berpesan supaya merelakan dia jika dia tidak kembali setelah berperang. Tapi cita-cita Mbah Sri adalah supaya dapat dimakamkan di samping makam suaminya tersebut.

Ternyata...
Ketemu makam dengan nama Ki Pawiro Sahid. Meninggal tahun 1985. Padahal kan jaman londo ya before 1960an to? Tandanya adalah Mbah Pawiro ini tidak meninggal, tapi tidak kembali juga ke Mbah Sri. Scene akhir film ini adalah Mbah Sri menyapu dan nyekar makam dengan nisan yang bertuliskan Nyi Pawiro Sahid yang letaknya di sebelah makam Ki Pawiro Sahid.

Makam yang Mbah Sri sapu merupakan makam istri kedua Mbah Pawiro.

Sepanjang film ini menggunakan bahasa Jawa halus tapi ada teks di bawahnya. Terdapat gojegan^ sederhana dalam bahasa Jawa. Suasana desa sangat kental, yaitu dari cara bertanya alamat ke orang, saat sedang mengobrol, kemudian rumah joglo dengan dinding kayu jati menjadi ciri khas film ini. Tidak lupa, sambil jagong^ disediakan teh nasgitel^ dengan gelas dan tutup cangkir plastik. Tapi saya bingung, nama suaminya itu Prawiro atau Pawiro ya? Kemudian saya sebenarnya lupa di nisan tulisannya apa, tapi sepanjang film teks menuliskan Pawiro.

Ending yang tidak biasa mungkin yang menjadi keistimewaan film ini. Ketika ternyata hampir 50 tahun lebih Mbah Sri berdoa di makam yang salah, ternyata jasad suaminya ada di tanah lain, bersanding dengan orang lain. Namun pada akhirnya, Mbah Sri menerima dan mungkin memaafkan. Ziarah atau nyekar ini memang masih menjadi adat yang melekat di budaya Jawa ya. Mendoakan leluhur dan tentu meminta restu untuk kehidupan keturunannya yang masih berada di bumi ini.

Keterangan ^ kijing : makam
Klas Loro : terdengarnya sih begini, ternyata ini adalah Agresi Militer Belanda II, kejadian tahun 1948.
nyekar : berkunjung ke makam dan bersihin makam dan memberikan bunga, sekaligus berdoa.
gojegan : becandaan
jagong : ngobrol
nasgitel : panas, legi, kentel :))

Ternyata lebih susah mengingat kata-kata yang berbahasa Jawa halus dibandingkan dengan bahasa Inggris. he he he.

Brigitta Yolanda P. P.

Brigitta Yolanda P. P.

Not so talkative, but I try to write all my talks. Need coffee everyday and crazy about 'senja'. -b.yolanda28@gmail.com-

Read More