/ entertainment

Reza Rahadian dan Empat Perempuan dalam 'Perempuan Perempuan Chairil'

Sebagian besar generasi milenial macam saya ini pasti mengenal Chairil Anwar dari Rangga di film Ada Apa dengan Cinta. Kutipan yang paling sering disebutkan dari Chairil Anwar mungkin adalah : "Aku ini binatang jalang", yang diambil dari puisinya yang berjudul AKU. Selebihnya, hanya orang yang benar-benar mencintai sastra mungkin yang mengenal dan hapal betul karya-karya Chairil Anwar lainnya.

Chairil Anwar sendiri hanya memiliki waktu hidup yang cukup sebentar di dunia ini namun meninggalkan banyak kisah, termasuk tentu saja karya-karyanya yang begitu membekas bagi sejarah sastra Indonesia, bahkan bagi sejarah bangsa Indonesia sendiri. Karya-karyanya Chairil banyak yang bercerita mengenai perjuangan Indonesia melawan penjajah saat itu. Berikut adalah salah satu biografi singkat tentang Chairil Anwar.

Nah, cerita mengenai Chairil Anwar ini diangkat menjadi sebuah lakon teater yang dipersembahkan oleh Titimangsa Production, sebuah lembaga seni milik Happy Salma. Happy Salma sendiri merupakan produser dari pertunjukan ini. Distrudarai oleh Agus Noor dan salah satu penulis naskahnya adalah penulis biografi Chairil Anwar yaitu Hasan Aspahani. Judul lakonnya adalah Perempuan Perempuan Chairil. Awal saya bisa tahu tentang pertunjukan ini dari Instagram, tepatnya kapan saya lupa. Satu hal yang pasti tahu saat itu adalah peran Chairil dimainkan oleh Reza Rahadian. Kapan lagi bisa melihat aktor kesukaan ini secara langsung? Hanya udara dan ratusan bangku yang membatasi saya dan Bang Reza. Ditambah ada nama Tara Basro. Udah, fix cari tiket. Waktu itu kalau memang tidak ada teman yang bisa diajak, saya mungkin nekat nonton sendiri dengan harga tiket maksimum di nilai 500rb. Beruntungnya saya ada kawan Geodesi yang bisa membelikan dan dapat tiket di harga Rp 300rb. Demi Reza Rahadian.

Tahun lalu ternyata ada teater berjudul Bunga Penutup Abad yang disadur dari novel karya Pramoedya Ananta Toer. Bintangnya juga Reza Rahadian. Saya semakin penasaran, secanggih apa aktor tampan ini beraksi di panggung. Tapi saya pun ingin tahu tentang kisah hidup Si Binatang Jalang ini. Tema yang diangkat pun menarik, hubungan antara seorang pujangga dengan perempuan yang dekat pada semasa hidupnya. Berikut sinopsis dari teater ini yang saya foto dari buku panduan teater.

Sinopsis dan Tara Basro

Terbaca ya dari sinopsis di atas mengenai apa teaternya. Mari masuk cerita pengalaman dan pendapat saya mengenai pertunjukan ini. Tirai tertutup, lampu sudah dimatikan. Alunan musik pun terdengar. Serius deh, sound Teater Jakarta, TIM bagus banget. Orkestranya terasa halus. Tirai membuka, kemudian muncul sosok Chairil Anwar menyalakan rokok. Sendiri. Berdiri dekat lampu. Monolog awal sudah bercerita bagaimana bahwa hanya perempuanlah yang selalu menarik perhatian Chairil. Reza Rahadian membawakan puisi dan kata-kata kutipan Chairil dengan menawan. Tidak dengan gerak yang berlebihan, namun ekspresinya sangat mewakili kobaran semangat, narsisme Chairil Anwar.

Babak selanjutnya adalah tentang hubungan antara Ida, diperankan Marsha Timothy, dengan Chairil. Babak ini termasuk yang saya suka karena debat dan dialog keduanya sangat hidup. Ida adalah perempuan cerdas, yang tidak gampang terkena rayuan. Apalagi Chairil sudah terkenal sebagai penyair yang serampangan hidupnya. Chairil dengan berbagai jurus rayuannya berusaha mendekati Ida. Saya terbawa gregetan sendiri dan juga kagum bagaimana bisa seorang perempuan memiliki pendirian dan prinsip tegas seperti Ida. Rayuan Chairil dibawakan sangat apik. Gesturenya terasa pas, bikin penonton (terutama saya) senyum-senyum sendiri melihat tingkah laku Chairil yang ingin curi-curi kesempatan. Tahulah, cara pria lagi melakukan PDKT gimana. Tahulah gimana seorang pria jika naksir perempuan. Melalui babak ini semakin terlihat Chairil Anwar yang pede tingkat tinggi dan juga senang meminjam barang tanpa bilang ke pemiliknya. Itulah kata-kata Chairil di lakon ini: "Iya saya meminjam, tapi tidak memberi tahu yang punya..."

"Kau buru perempuan, tapi tak pernah menangkap hatinya..." - Ida kepada Chairil

Sri Arjati dan Chairil adalah penceritaan selanjutnya. Sri Arjati, diperankan Chelsea Islan, merupakan sosok ayu, manis, dan baik. Kegenitan Chairil Anwar semakin menjadi pada babak ini. Tapi dialog Ida dan Chairil masih lebih menarik dibandingkan dengan Sri ini. Pada babak ini hanya diperlihatkan bahwa Chairil adalah si tukang tebar pesona dan Sri Arjati termasuk yang sedikit tergoda dengan pesonanya. Kecantikan Sri membuat Chairil menelurkan karya berjudul Senja di Pelabuhan Kecil.. Sri adalah senja itu. Pada akhirnya Sri menentukan pasangannya sendiri, bukan Chairil. Ada adegan dansa antara Reza dan Chelsea pada bagian ini sambil dialunkan lagu "Hidup Hanya Sekali" yang dinyanyikan oleh mereka berdua. Suara Chelsea jernih euy.. Gemes :D

"Bila ada perkara-perkara berbahaya di dunia, mencintai penyair adalah salah satunya.." - Sri Arjati

Sumirat. Ah Mba Tara Basro ini.... Panggung awal disuguhkan oleh amarah dari Sumirat yang sedang membereskan baju dan bilang mau pulang. Mba Tara, marah aja bikin gemes (lah..). Reza Rahadian, masuk-masuk hanya pakai kaos oblong. Favorit. hehe. Saya suka dengan babak ini karena saya benar-benar dibawa naik-turun emosinya. Maklum, dalam babak ini bercerita tentang perempuan dan pria yang dimabuk cinta. Marah, mengingat memori bahagia bersama, kemudian berbicara tentang masa depan berdua. Memiliki rumah sederhana dengan taman kecil. Kau kembang, aku kumbang. Aku kumbang, kau kembang (dari puisi TAMAN-Chairil Anwar). Emosi yang dilampiaskan bisa saya rasakan. Atau karena memang saya ngefans aja sama Tara Basro ya? Cara Sumirat mencintai, kemudian marah, dan mencintai Chairil lagi tergambarkan oleh Tara Basro. Ujung cerita ini lagi-lagi adalah kegagalan Chairil berlabuh pada perempuan, karena Chairil berpendapat lebih baik dipadamkan saja kobaran api yang sudah terbakar dan biarkan Chairil gosong. Wah sialan, dasar pria. Cewenya sudah mau berusaha, cowonya menyerah begitu saja dengan berjuta alasan (dan merasa prialah yang tersakiti, suka gitu emang..).

A post shared by Melon Lemon (@blessedmelon) on

"Cinta adalah bahaya yang lekas pudar" - Chairil Anwar

Chairil Anwar pun akhirnya menikahi perempuan bernama Hapsah. Diperankan dengan manis oleh Sita Nursanti. Penonton mudah jatuh cinta dengan sosok Hapsah. Chairil Anwar sebagai seniman yang punya egonya sendiri dengan mengatakan tidak dapat bekerja di bawah perintah orang. Penyair katanya. Jadilah kesulitan ekonomi dialami mereka berdua. Hapsah sendiri adalah perempuan lugu dan sederhana dari Karawang yang tidak mengerti kata-kata yang keluar dari mulut Chairil. Lugu namun berani untuk memberikan cintanya untuk seorang pria yang tidak jelas penghasilannya dan gaya hidupnya. Obrolan mereka juga diceritakan gak nyambung. Ditanya dari mana sama Hapsah, jawabnya dari suatu tempat yang tidak diketahui namanya. Iya ribet sih sama penyair. Ingat ya gimana Rangga di AADC? Satu hal yang saya pelajari dari Hapsah adalah perempuan harus bisa masak, itu yang membuat Chairil Anwar berbinar-binar. Masakan ketan srikaya Hapsah sangat enak, mirip masakan ibunya. Sebagai balasan ketan enak, Chairil membacakan sajak untuk Hapsah. Romantis? Kenyataannya manusia tidak cuma butuh kata-kata indah belaka, butuh materi kak! Panggilan sayang Hapsah di lakon ini adalah Gajah..

A post shared by Anggoro (@purpalart) on

"Aku tahu kau kesepian Chairil.. Tapi hati perempuan yang tak dimengerti, lebih sepi dari kesepian apa pun" -Hapsah-
"Tanpamu aku tak akan mengenal rumah dan pulang" - Chairil dalam Perempuan Perempuan Chairil

Pertunjukan ditutup dengan kondisi Chairil Anwar yang semakin parah dengan penyakitnya. Chairil curhat dengan kawannya Affandi sang pelukis. Diceritakan mengenai semangatnya dengan revolusi dan ambisi menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Tirai ditutup dengan Chairil yang berpuisi dan membungkuk kepada penonton.

Keseluruhan pertunjukan ini saya suka. Banget malah. Teater ini tidak memiliki banyak peran dan manusia yang tampil. Paling banyak 3 orang dalam 1 panggung. Gerak-gerik juga tidak berlebihan. Paling menari dan pukul-pukul sedikit. Mungkin paling ekstrim ketika Reza naik atas kursi karena kebahagiaannya mendengar akan menjadi ayah. Teater ini kuat pada dialog dan monolognya. Puisi-puisi Chairil Anwar diselipkan dengan sangat rapi di setiap scenenya. Melalui teater ini saya jadi tahu tentang Chairil Anwar yang ingin merdeka, tidak dapat menetap di satu hati. Terdengar playboy ya, tapi memang karena prinsip hidupnya dan pikirannya yang nyeleneh maka seperti itulah kisah hidupnya. Melalui teater ini juga diperlihatkan sosok perempuan yang kuat dan memiliki prinsip. Bahkan bagi Hapsah yang lugu, ia bersikeras menyadarkan Chairil untuk memiliki hidup yang wajar dan layak. Intinya walau terkadang ada kata-kata yang sulit saya mengerti, saya sangat suka. Teater ini tidak melulu serius dan disuguhkan bahasa sastra yang sulit. Penonton diajak tertawa melihat tingkah lucu Chairil Anwar berinteraksi dengan perempuan-perempuan idamannya.

Perlu diakui, Reza Rahadian ga ada obat. Saya makin kesengsem..... Nah berikut foto-foto narsis kami para penonton teater. Kami juga sempat melihat Happy Salma dan Reza Rahadian yang seliweran di depan mata. Tapi apalah daya kelemahan saya kalau lihat artis adalah malu untuk minta selfie. Walhasil berikut foto-foto blurnya... :D

sebelum nonton di kelas 2

setelah pertunjukan

cantik yes, Happy Salma. Blur aja cantik

foto paling ga blur Reza dan Riri Riza. Ga kepikiran dong kenapa ga foto sama Riri Rizanya aja. Rambutnya Reza sangat on point sih. Fave!

Setelah menonton teater ini saya menjadi mendapatkan pengetahuan mengenai kehidupan dan karya-karya Chairil Anwar, pujangga Indonesia. Hidup singkat, namun dikenang sepanjang masa. Walau banyak hal nyeleneh tapi karyanya yang lugas dan cadas (menurut para sastrawan), Chairil berhasil mewujudkan dirinya sebagai orang penting.

Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi - Aku, Chairil Anwar

Brigitta Yolanda P. P.

Brigitta Yolanda P. P.

Not so talkative, but I try to write all my talks. Need coffee everyday and crazy about 'senja'. -b.yolanda28@gmail.com-

Read More