/ life

Stage Act

One of my favorite activity that still attach to me since high school is photography. Attach atau terpaksa attach sebenarnya. Walaupun sekarang sudah teramat sangat jarang membawa Si Nikon D90 saya yang sudah berusia 7 tahun itu, tapi ya terkadang dalam setiap kesempatan masih berusaha memaksimalkan kamera handphone untuk jepret sana-sini. Selain itu juga rasa-rasanya kemampuan foto semakin berkurang karena tidak pernah diaplikasikan sesering mungkin. Tapi ya kalau bisa dapat foto baru minimal akan saya upload di instagram saya. Feednya berantakan sih, tidak seperti generasi anak milenial, tapi ya cukup untuk membawa kepuasan tersendiri.

Kalau mau ditanya paling senang motret apa, mungkin saya paling excited kalau bisa dapat kesempatan untuk motret aksi panggung. Selain paling senang, sebenarnya juga paling dirindukan sih untuk motret begini. Berawal dari keikutsertaan saya menjadi anggota Klub Fotografi di SMA saya dan mendapat keuntungan spesial menjadi tukang foto berbagai acara yang diadakan oleh nak anak sekolah saat itu. Saya bisa mendapatkan kesempatan berada di depan panggung dan memotret musisi yang sedang melakukan aksinya di panggung. Berikut foto-foto dari jaman dahulu kala :
Vokalis maliq & d'essentials Kalau ini Barry Likumahuwa dan pemain saxophone yang saya lupa namanya

Kenapa bisa favorit motret aksi panggung? Alasannya sebagai berikut :
Well, siapa juga yang tidak suka melihat musisi lagi manggung, mendengarkan musik dan suara mereka secara langsung. Selain itu juga saya selalu terkesima dengan tata lampu yang menghiasi dan meramaikan aksi panggung para musisi tersebut. Ditambah dengan asep-asep terkadang menambah efek menggairahkan (uopo). Ketika melihat hasilnya di foto akan terlihat waw... hehe.
Selain itu ketika menonton musisi beraksi akan terlihat bagaimana ekspresi manusia-manusia yang mencintai pekerjaannya dan berusaha menyenangkan penontonnya, memberikan hiburan semaksimal mungkin. Terlihat mereka bekerja dari hati dan terkadang ekspresinya pun menyenangkan hati. Sehingga kalau bisa mendapatkan momen yang tepat, akan menghasilkan foto yang membawa kepuasan tersendiri juga.

Paling rindu deh pokoknya lihat aksi panggung gitu. Selain musik, sebenarnya saya juga suka lihat pertunjukkan tari, atau teater dsbnya. Nah kalau pertunjukkan tari dan hiburan seni panggung yang agak abstrak dicerna sering saya tonton ketika saya kuliah di Jogja. Itu juga cukup menarik untuk dipotret. Tapi tetap sih foto konser itu paling menyenangkan.

Nah tanggal 24022017 kemarin ini saya lagi-lagi diajak oleh teman saya, si Brigita satunya yang tidak double t, untuk ikut nonton konser dari artis-artis pengisi soundtrack film Galih & Ratna (yang akan tayang 9 Maret 2017). Mini konser ini diadakan oleh Joox, pemutar musik saingannya Spotify. Harga 99ribu sudah bisa untuk 2 orang, termasuk dapat voucher Rp 30rb untuk nonton Galih & Ratna. Murce ya. Tempatnya di The Hall Casablanca, Kota Kasablanka yang macetnya bisa bikin nangis itu.

Awalnya saya tidak mau datang karena lokasinya yang bikin hilang selera itu. Tapi melihat ada nama White Shoes & The Couples Co dan Sore yang terpampang membuat saya nekat mengiyakan. Oh ya, bintang utamanya sebenarnya adalah GAC, karena trio itu yang menyanyikan lagu utama Galih & Ratna remake. Aransemen barunya asik banget. Album soundtracknya di bawah ini, saya pakai Spotify tapi ya :p

Saya tidak bawa kamera dan lensa tele saya, jadi ya baiklah menggunakan kamera handphone cukup. Baru kali ini nonton konser bisa lesehan di karpetnya. Seru juga. Tata lampunya juga oke punya.

Saya mulai berdiri ketika Sore tampil, sedangkan teman saya tetap duduk. Cuek, saya maju sendirian. haha biasa sendiri (loh kok curhat). Suara vokalisnya memang khas dan musiknya juga aduhai. Bikin pengen manja-manjaan. Foto-fotonya, yah lumayan dengan si Samsung A7 ini, yang zoom-zoom jadi pecah ya, beda kalau bisa foto dengan tele.

Kemudian kembali duduk karena ada selingan untuk promo filmnya, selanjutnya tampil WSTACC. Dengan instrumen pembukaan yang khas mereka muncul dan Nona Sari mulai menari-nari dengan lincah. Ah, saya masih mengagumi mereka sejak tahun 2006. Foto-fotonya juga semakin jauh dan tidak terlihat aksi panggungnya, karena shutter speed tentu tidak bisa diatur dengan kamera hp toh. Untung tertolong dengan lampu terang benderang.
sedih drummernya ga kelihatan Lagu Sabda Alam, Windu Defrina, Senja Menggila, dan Masa Remadja cukuplah untuk mengobati rasa rindu dengan band ini :')

Ada Sheryl Sheinafia juga yang merupakan Ratna di film Galih & Ratna ini. Suara mbaknya bagus dan petikan gitarnya mungkin bisa bikin pria-pria menggelepar ya.. Sayang saya duduk saja sih, jadi tidak foto-foto.

Nah penampilan terakhir adalah GAC. Penampilan enerjik dari awal langsung disuguhkan dan ternyata oh ternyata memang penontonnya kebanyakan anak usia masa kini karena semua teriak-teriak menyambut GAC. Karena keburu kalah dengan adik-adik remaja yang langsung mengerumuni panggung, jadi saya menikmati layar saja dan sebenarnya gantian jaga tas teman saya yang akhirnya maju ke dekat panggung. Lagu Bruno Mars 24K Magic dinyanyikan, kemudian Bahagia, serta Galih & Ratna membuat semua sing along. Sayang sound system sejak awal kurang memadai, sehingga suara penyanyi kurang terdengar.
Wah foto-fotonya Gama semua, ya kebetulan yang ekspresinya bagus sih.

Nah, dengan datang ke mini konser itu sebenarnya kurang cukup memuaskan hati saya untuk mendapatkan ekspresi pemusik-pemusik. Tapi dengan harga Rp 99rb, sudah lumayan banget. Semoga ada waktunya nanti saya tidak malas membawa kamera saya ya supaya puas mendapatkan foto-foto ciamik (menurut pendapat saya).

So, jangan lupa tonton Galih & Ratna di bioskop terdekat tanggal 9 Maret 2017 (malah promosi)

Brigitta Yolanda P. P.

Brigitta Yolanda P. P.

Not so talkative, but I try to write all my talks. Need coffee everyday and crazy about 'senja'. -b.yolanda28@gmail.com-

Read More