/ travel

Terpesona Keelokan Sumba Timur

Mari melanjutkan cerita saya yang berkunjung ke Pulau Sumba. Bolehlah membaca postingan saya sebelumnya kalau belum sempat baca. Setelah sebelumnya saya menghabiskan dua hari di daerah Sumba Barat dan Sumba Barat Daya, maka hari ketiga dan keempat ini saya dan rombongan mengelilingi Sumba Timur. Menuju Sumba Timur ini saya lalui pada hari Sabtu malam, setelah mengunjungi Air Terjun Lapopu dan mengganti baju yang kering, kami semua langsung tancap gas menuju Sumba Timur. Perjalanan malam memakan waktu sekitar 4 jam lebih. Bayangkan ya, jauh beudh kan. Tanpa macet dan mobil yang berkeliaran juga masih sedikit, perjalanan 4 jam itu termasuk jauh. Mulai dari melek, terus ketiduran, melihat sekeliling gelap, tidur lagi...lapar cari cemilan, tidur lagi, melek, gitu terus dan belum sampe-sampe...

Ini gambaran jalurnya yang kami lalui dengan mobil pada tanggal 10 Februari malam kemarin itu. Ada dua jalur ya, drivernya ambil yang mana saya juga ga tahu. Pokoknya sampai lokasi sekitar 11.30PM deh.

Kami menginap di Padadita Beach Hotel. Walau sampai hotel tersebut sudah hampir tengah malam, namun makan malam masih menunggu kami...dan walaupun muka udah amburadul dan pengen banget nempel sama bantal, rasanya makan sup krim jagung ga ada salahnya ya kan sebelom mandi terus bobo... Hotelnya oke nih di pinggir pantai. Kalau ke Sumba Timur boleh banget mencoba nginep di sini. Kamarnya ada balkon, kamar mandinya luass.. ehe

Bukit Wairinding
Minggu, 11022018 pagi kami langsung cabut menuju lokasi-lokasi perbukitan di sekitar Sumba Timur. Mohon maaf, ingatan samar-samar, banyak perbukitan savana yang sebenarnya kami lewati selain Wairinding. Tapi saya lupa namanya, jadi mungkin saya akan berikan fotonya saja ya... Nah dari hotel ke Wairinding ini saya juga lupa berapa lama perjalanan, tapi seingat saya sih ya lumayan deh. Sampai lokasi ini, kami langsung disambut dengan panas terik. Seterik itu. Kalau mau pake kacamata hitam yang beneran ada pelindung sinar UVnya biar adem gitu. Soalnya kacamata cepean ga ada adem2nya, cuma bikin berubah warna aja heheehe.

Begitu sampai dan melihat scenery Wairinding, rasanya langsung UWAWWWW.. Dalam hati, oh ini toh lokasi yang jadi background kekinian para selebgram.... hmmm. Lihat langsung rasanya takjub. Perbukitannya bebaris rapi, pandangannya luas banget, merasa kecil. Ingin guling-guling dan gelinding gitu tapi kan ga mungkin ya. Intinya keren banget. Merasakan angin sepoi-sepoi, tapi tetep berasa panas banget. Di sini kita bisa foto-foto dari berbagai posisi dan pose. Kalau ada warga setempat yang sedang duduk-duduk atau anak kecil di sekitar situ juga boleh sambil mengobrol dengan mereka dan mengajak ngobrol mereka juga seru. Berikut foto-fotonya

look how small hooman is, right?

si Ratri yang ngajak untuk ikut trip ini :D

Foto yang sudah diatur cahayanya dengan Snapseed ehe.. ala ala lalala

Perbukitan Savana Lainnya

Selain Bukit Wairinding, ada beberapa perbukitan lainnya yang saya kunjungi, tapi astaga saya tidak tau namanya. Kemudian saya juga pingin banget tuh pergi ke lokasi syuting Marlina, Si Pembunuh dalam Empat Babak. Cuma karena emang pemandangan antara bukit satu dengan bukit lainnya mirip-mirip, jadinya tidak tahu yang mana deh. Berikut adalah foto-foto savana lainnya yang saya kunjungi. Selama berkunjung ini memang waktunya dibatasi, soalnya titik tempuhnya cukup jauh-jauh. Minimal perjalanan sekitar 40 menitan antar lokasi. Padahal kan savananya luas banget, jadi kalau mau eksplor di satu titik kemarin ga bisa jauh-jauh, minimal tempat parkir mobil kelihatan. Kemarin kalau misalnya sampai kelilingnya jauh-jauh banget, harus bunyi klakson mobil untuk manggilin yang mencar-mencar. Bunyinya sampai kecil kedengarannya, saking luas banget savana-savana di sana. Soalnya kalau telpon susah sinyalnya.

Foto yang di atas ini namanya Bukit Raksasa Tidur. Can you see the nose, mouth, and the chest? Dadanya semacam bidang yak. Katanya tiap satu jam sekali raksasanya ganti posisi tidur, ga telentang terus, tengkurep, miring.... ehe ehe...

pose foto kepanasan

Walaupun pemandangannya hanya savana di sepanjang perjalanan, saya tidak bosan melihatnya. Apalagi melihat ketika barisan awan putih berarak dan dekat dengan bukitnya. Rasanya mau dijatuhi dengan awan-awan tersebut. Selain itu perjalanan di Sumba ini tidak banyak menanjak, jadi mobil-mobilnya benar-benar nganter ke lokasi dan yasudah kami tidak perlu bersusah payah mendaki atau turun-turun untuk foto-foto. Jalannya hanya sedikit saja.

Kampung Raja Prailiu

Setelah berkeliling di perbukitan Sumba Timur, kami makan siang di suatu rumah makan. Lupa namanya. Sebenarnya sih selama di Sumba ini saya tidak mencoba makanan khas daerah sini. Pun ketika ditanya sama penduduk sekitar, makanan khasnya apa, jawabnya ya ga ada.. gitu... Walaupun tidak ada makanan khas, tapi setiap rumah makan yang kami singgah, rasa makanannya enak!

Nah, ada sambungannya tuh, yang khas apa di Sumba? Tenun Sumba dong jelas! Kalau ada yang follow Mba Dian Sastrowardoyo di instagramnya pasti udah pernah liat doi pake kain Sumba terus foto-foto cantik gitu ye kan.. Penasaran dong beli di mana tuh kain Sumbanya. Setelah makan siang, beberapa dari kami melanjutkan perjalanan mencari tenun Sumba. Awalnya kami diboyong ke suatu toko, namun karena orangnya pergi walhasil kami menuju ke daerah pengrajinnya langsung! Ga jauh sih, cuma tinggal jalan kaki lurus belok dikit sampe (ya pada ga kebayang dong belok kiri macam gimana ini para pembaca yaa). Lokasi pengrajinnya ini namanya Kampung Raja Prailiu. Kami sampai di satu rumah dan Mama di rumah itu langsung menggelar tenun-tenun Sumba berbagai ukuran, warna, dan tentu saja harga.

Sejujurnya saya kurang mengerti mengenai kain-kain tenun maupun songket gitu ya. Tapi ini dijelaskan harga berbeda karena dari sistem pengerjaan dan pewarnaannya. Ada yang pewarnaannya gampang luntur dan juga tidak luntur. Ukurannya juga beda-beda. Ada yang cuma untuk ikat kepala, atau ukuran sedang, ada pula songket yang biasa penduduk setempat, terutama perempuan, pakai untuk acara adat. Corak pada tenun Sumba memiliki cerita di dalamnya. Semakin kompleks corak dan gambarnya, tentu harganya akan semakin mahal. Kebanyakan corak tenun Sumba bergambar kuda dan ada ksatrianya. Cantik-cantik deh. Harga? Jangan kaget, untuk yang berukuran sedang paling murah seharga Rp 350rb. Kalau yang ukuran besar (bisa digunakan sebagai songket atau bawahan perempuan) bisa seharga Rp 1jt.. Ada pedagang lain yang datang di rumah yang kami kunjungi, harganya cukup murah tapi warnanya terlihat yang mudah luntur. Jadi harus dicermati dengan benar saat membeli dan bawa dana yang cukup. Oh ya menerima transfer juga sih... Tawar-menawar juga bisa dilakukan di lokasi ini.

Penampakan kain yang ada di toko

foto pembelian tenun Sumba

Selain lihat-lihat kain tenun dan beli dan ngiler sama kainnya karena mahal, di sini bisa juga keliling naik kuda dan berfoto di depan rumah adatnya. Bisa sambil pinjam kain yang dijual juga, lengkap dengan kalung dan mahkota untuk yang perempuan. Cakep loh.. Sejujurnya saya pengen banget beli kalung khas mereka yang ada bandul seperti tombak (atau bentuk perhiasan asli Sumba ya), dimana kalungnya full butiran batu oranye. Cantik, sangat etnik gitu. Pas ditanya berapa harganya : Rp 300rb.... Nangis dong ya, kalung tiga ratus rebu :((((
Katanya bandulnya itu memang bentuk dari mahar jika ingin melamar gadis.

Etnik Sumba

Pantai Walakiri

Setelah menguras dompet dan kantong untuk membeli kain (padahal juga beli kain paling mure, sehelai doang pula), selanjutnya adalah menikmati matahari terbenam di Pantai Walakiri. Pantai ini merupakan lokasi dari the famous Dancing Trees. Pepohonan yang dimaksud adalah barisan pohon bakau yang meliuk-liuk di laut. Well, mungkin bukan hari keberuntungan saya karena sebagian besar pohon bakau itu terendam air laut karena hari itu hujan turun. Sampai di pantai ini pun kondisinya masih hujan, langit pun hanya putih, mendung. Rasanya sudah kecewa berat. Pikiran hanya bisa berdoa dan bingung kapan bisa ke sini lagi cobaa... Akhirnya makan indomie goreng dululah di pinggir pantai biar kehibur sedikit.

Setelah habis makan mie gorengnya, ternyata langit mulai bersahabat dengan tidak lagi menurunkan hujan. Mulai semakin bahagia ketika sampai di pinggir pantai, ada matahari yang nongol di sisi barat pantai. Pantai Walakiri ini menghadap ke utara ya gaes, jadi mataharinya ada di sebelah kiri kalau terbenam. Lokasi Dancing Trees-nya agak jauh dari pinggir pantai, tapi karena lagi pasang, jadi kami harus sewa perahu untuk keliling. Ya kapan lagi sih, siapa tahu ga ada kesempatan lagi ke Sumba dan akhirnya kami sewa perahu. Kalau ga salah Rp 200/300rb ya, isi maksimal 5 orang. Kelilingnya ga jauh, tapi lumayan ngerasain laut di Sumba yang very quiet. Laut tanpa ombak. Hening....

Mau tau apalagi keajaiban lainnya ketika kami di Sumba? Langit Sumba memberikan pelangi dengan kurva setengah lingkaran sempurna... Bengong akutu liatnya waktu itu. Soo happy. Rasa kecewa langsung hilang gitu aja pas lihat pelanginya. Double curves seinget saya waktu itu, tapi yang kefoto memang keliatannya cuma 1.

Mari bicarakan tentang senjanya..... Awan di Sumba itu kecil-kecil putih kan, nah semburat mataharinya mewarnai awan-awan kecil menjadi warna emas, dengan sedikit sentuhan biru dan pink setelah mataharinya semakin tenggelam. Cotton candy dawn. Manis. Magical of Sumba. Ajaib. Suka. Sebagai pengagum senja (dan pengagum kamu), Sumba memberikan warna senja terbaik yang pernah saya alami. Well, ga banyak merasakan senja sih, tapi senja di sini sangat indah. Walau ga bisa foto dengan latar Dancing Trees yang full, tapi merasakan senja elok Sumba sungguh menjadi momen tak terlupakan. I'm blessed :'')

The Rainbow

foto menggunakan Nikon D90, ditambah shade oranye untuk 3 foto terakhir. Foto senja pertama dengan kamera hp no filter, bawahnya kamera nikon no filter. Magnificent, right?

Sunrise, Bukit Persaudaraan, dan Kuda

Matahari terbenam di Walakiri menandakan malam terakhir di tana Sumba telah datang. Setelah puas menikmati senja, kami pun kembali ke hotel untuk beres-beres dan packing. Malam terakhir itu kami habiskan dengan acara tukar kado bersama peserta teaching and travelling 1000 Guru. Malam panjang kami habiskan bersenda gurau, berfoto, dan tukaran profil instagram. Ya walau mungkin kami tidak akan pernah bertemu lagi, tapi kami tetap tahu kan ya kegiatan masing-masing dan mengingat wajah rekan trip seru ini. Selain itu, beberapa dari kami juga merencanakan untuk mengejar sunrise! Hari terakhir kak, masa iya tidak merasakan matahari terbit di Sumba dengan scenery macam begitu...

Setelah bertanya-tanya dengan para driver, akhirnya ada juga yang berbaik hati mau mengantar kami keliling mencari matahari terbit. Pukul 04.00 rencananya kami berangkat dari Padadita. Menurut drivernya, ga usah cari yang terlalu jauh, ada Bukit Persaudaraan yang letaknya cukup dekat dari hotel. Oke baiklah manut. Untuk perjalanan tambahan mencari sunrise ini, kami harus bayar sendiri lagi tambahannya. Sekitar Rp 400rb untuk sekitar 6 jam (perjanjiannya kalau ga salah sampai antar ke bandara, tapi pengaturannya kemarin agak berantakan sih. Paling penting saya nyampe aja dah ke bandara).

Senin, 12022018, pukul 04.00 kami standby di lobby hotel. Para pengantar kami pun juga sudah siap. Sungguh, mereka sangat semangat untuk mengantar kami sejak hari pertama! Salut. Ramah pula! :)
Masih gelap, terus sampailah kami sepertinya di suatu bukit. Langitnya bersihhh. Bintang bertaburan di mana-mana. Kayaknya sih ada keliatan milky way ya, etapi ga tau ding.. Nah saya dan ratri pengen tuh ya bisa moto ala-ala milky way cakep. Tapi kan ga bawa tripod, apa daya itu DSLR saya ditaroh sembarangan di atas aspal trus yaudah jepret aja asal. Ada satu foto kayaknya yang cukup berhasil, tapi ya absurd sih..

foto langit yang gagal

Lanjutan di bawah ini adalah foto-foto kenikmatan alam di Sumba yang saya rasakan di hari Senin! Oh Senin ku tak pernah seindah ini ~~

Bukit Persaudaraan ini terkenal dengan pemandangan hamparan sawah di bawahnya. Sawah kotak-kotak terpampang luas dengan ada perbukitan juga di belakangnya. Sungguh!

Perbedaan atas bawah adalah, jika zoom in dan zoom out. Ada sawah juga ya Sumba tuh

Selain savana dan perbukitan luas, obyek foto yang sangat menarik adalah kuda! Yes, harus foto sama kuda yang berkeliaran bebas mencari makan sendiri di rerumputan. Kebetulan banget di Bukit Persaudaraan ini banyak kuda-kuda yang sedang sarapan. Dengan baik hati, pengantar kami menggiring dua ekor kuda untuk diajak berfoto. Kudanya ibu dan anak.. Gemayyyy tapi ngeri juga sih.

pengantar sunrise kami

Foto sama kuda, sama-sama belum mandi. Kudanya bebas berkeliaran.

Setelah matahari sudah cukup tinggi, kami pun kembali ke hotel untuk sarapan. Oh ya pisang goreng di Padadita ini juara! Enak dan manis! Nah sebelum kami bertolak menuju bandara, kami sempat kembali ke Kampung Raja Prailiu lagi. Cuma ngiler saja sih saya, kebetulan budget udah pas banget. Belum juga beli oleh-oleh buat kawan Jakarta.

Nah untuk pulangnya saya berangkat dari bandara di Waingapu dan menuju ke Bali lagi. Oleh-oleh yang saya bawa dari Sumba cuma tenun sehelai dan kopi hitam 2 bungkus plastik kecil. Soalnya tidak sempat ke toko oleh-oleh, pun toko oleh-oleh kayaknya cuma ada 1 dari seluruh kota di Sumba Timur deh. Kata teman yang beli juga ya adanya kacang gitu... Memang yang khas itu tenun Sumba. Kopi hitam menurut saya juga khas, tapi karena di bandara juga jualnya per bungkus kecil-kecil gitu saya pun belinya sedikit. Oleh-oleh malah saya beli di Bali hehee. Ada cake banana enak dahh di Ngurah Rai! *lah

Perjalanan saya ke Sumba ini sungguh membekas bagi saya. Ini adalah perjalanan terjauh pertama saya untuk wilayah Indonesia. Bisa menyaksikan sendiri pemandangan yang tidak mungkin ditemukan di Pulau Jawa. Seandainya datang saat bulan Agustus ini, warna savananya akan lebih menggairahkan! Mereka akan menjadi kecoklatan. Sumba tanpa disadari membuat rindu juga bagi yang pernah mampir ke sana. Rindu dengan keindahannya, keajaiban sunsetnya, keelokan savananya, cantiknya tenun-tenun yang berjejer di rumah adatnya. Semoga tetap menjadi Sumba yang cantik dan agung. Semoga semakin indah dengan banyaknya wisatawan yang mampir ke sana. Semoga alamnya tetap terjaga oleh para manusia-manusia yang suka lalai dan jahat ke alam ya!

Demikian cerita Sumba saya, masih banyak banget lokasi yang belum saya kunjungi. Go search for yourself kalau penasaran dengan lokasi lainnya ya. Mungkin juga yang saya tulis di atas dan postingan sebelumnya ada yang salah, mohon maaf lagi. Jaraknya 6 bulan ini dari pergi ke tulisan hehehe. Penasaran ga sih, kok saya bisa cukup ingat lokasi dan waktunya ke mana saja? Saya anggap penasaran ya biar dijawab. Jadi saya selalu aktifkan GPS, nah terekam semua deh sama si google maps dan akan terbentuk timelinenya. Lumayan buat kenangan.... :'')

Semoga yang membaca ini dan belum pernah ke Sumba bisa merasakan rasanya terpesona di Tana Humba sendiri, apalagi Sumba Timur ini. Bagi yang sudah, gimana, rindu gak ....??

The earth has music for those who listen - GEORGE SANTAYANA

Brigitta Yolanda P. P.

Brigitta Yolanda P. P.

Not so talkative, but I try to write all my talks. Need coffee everyday and crazy about 'senja'. -b.yolanda28@gmail.com-

Read More