/ book

Tanah Air - Cerpen Pilihan Kompas 2016 [Buku Agustus]

Judul buku: Tanah Air - Cerpen Pilihan Kompas 2016
Penulis: 20 pengarang cerpen, Editor: Putu Fajar Arcana
Tebal Buku: 208 halaman
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Tahun Terbit: 2017

Buku ini berisi kumpulan cerita pendek terbaik dan terpilih yang dimuat Koran Kompas sepanjang tahun 2016. Terdiri dari 20 cerita pendek dan ditulis oleh 20 orang yang berbeda-beda. Membaca kumpulan cerpen ini menjadi favorit saya sejak beberapa tahun yang lalu karena saya tidak perlu dibuat penasaran dan beban untuk menghabiskan buku dalam waktu singkat, karena satu cerpen biasanya hanya terdiri dari delapan sampai sepuluh halaman saja. Mungkin itu alasan saya yang pertama, alasan saya yang kedua adalah kumpulan cerpen Kompas ini terlalu sering memberikan jalan cerita yang menarik dan akhir cerita yang mencengangkan, ditambah dengan gaya bahasa sastra Indonesia halus dan ringan.

Tampak Belakang Buku

Dalam buku ini biasanya akan ada kata pengantar dari perwakilan Dewan Juri yang menilai cerpen mana yang pantas masuk ke dalam buku. Jika membaca tulisan pengantarnya saja, kita sebenarnya sudah dapat mengerti seluruh isi dari cerpen-cerpen. Jadi biasanya, saya skip pengantar dan jika saya tidak paham, saya mencoba mencari apa yang dikatakan juri tentang cerpen tersebut. Berdasarkan juri untuk kumpulan cerpen 2016 ini dibagi menjadi empat tema besar yaitu kekejaman rezim dalam politik, relasi sosial yang tak setara, relasi personal, dan tema tradisi yang menyangkut spritualitas.

Tanah Air sendiri merupakan cerpen unggulan yang ditulis oleh Martin Aleida. Diceritakan mengenai seseorang yang melancong ke luar negeri karena Indonesia tidak memberikan ketenangan, namun orang tersebut membawa sejumput tanah Indonesia yang menyatakan bahwa ia sangat mencintai negaranya. Meminta istri dan keluarganya untuk ikut pergi ke luar negeri, namun orang tersebut menjadi tidak waras dan pada akhirnya melakukan suatu hal yang tidak wajar.

Daftar Isi

Cerita lainnya adalah mengenai ketidakwarasan seseorang yang kehilangan istrinya karena diceritakan istrinya ditenggelamkan oleh warga setempat. Pada awalnya kita akan merasa iba dengan pria ini yang merasakan kepedihan mendalam, ditambah diceritakan bagaimana masa lalu pria ini yang tidak mendapatkan pendidikan karena tidak memiliki biaya. Namun nyatanya pada paragraf akhir cerpen ini berakhir dengan penjelasan "istri" sang pria bukanlah manusia. Bukan manusia, lalu apa? Cerpen ini berjudul Terumbu Tulang Istri karya Made Adnyana Ole. Dengan cerpen ini menjelaskan bagaimana pendidikan yang kurang dan masa lalu seseorang yang membentuk karakter dan pemikiran setiap pribadi.

Ada pula cerita mengenai seekor anjing yang mati dengan cara bunuh diri (anjing bisa bunuh diri itu mungkin hasil imajinasi yang terlalu dalam) karena majikan yang membahagiakan dia tertangkap karena koruptor. Anjing saja malu dengan koruptor, tetapi manusia yang memiliki akal budi malah bangga memiliki harta dari korupsi. Cerpen ini memberikan sentilan-sentilan sosial yang terjadi di wilayah Indonesia. Paling menyedihkan mungkin tentang kehidupan pedagang rokok dan anaknya yang memiliki kios dan digusur oleh Satpol PP, melarikan diri tanpa memiliki harta yang tersisa. Kelaparan, sakit, dan keesokan harinya anak itu menjadi sebatang kara di pinggir rel kereta, sang ayah sudah tidak bernyawa. Saya jadi mikir, kenapa mereka takut sekali untuk dibawa ke panti sosial. Apakah memang di sana meraka hanya ditelantarkan dan tidak memiliki kebebasan jadinya?

...dan masih banyak cerita lainnya yang dituturkan dengan klimaks yang sering terjadi di akhir cerita dan membuat pembacanya boleh menentukan sendiri kelanjutannya seperti apa. Ya, banyak akhir yang menggantung, makanya saya usahakan menikmati kumpulan cerpen ini setiap tahunnya. Menarik membaca karya sastra yang ditulis bukan dengan bahasa sehari-hari. Tiap hari Minggu pasti ada cerpen yang dimuat di Koran Kompas, tapi karena sudah jarang buka koran ya mungkin enaknya beli buku ini saja. Pengarangnya sendiri beberapa ada nama yang dikenal yaitu seperti Seno Gumira Ajidarma, Agus Noor, Ahmad Tohari, dan lain-lain.

Kesimpulan, jika ingin menikmati Bahasa Indonesia yang halus namun ringan bisa mencoba membaca kumpulan cerpen ini. Tidak disarankan yang suka menikmati satu buku dengan satu cerita saja dengan beberapa tokoh utama. Kumpulan cerpen ini akan membawa pembacanya melihat cerita dari sisi aku, orang ketiga, bukan orang, roh halus, dan sebagainya. Selain itu akan menemukan topik sosial yang terasa nyata, tapi diceritakan dalam sebuah cerpen dengan alur yang sangat menarik.

Kutipan dari Sejarah karya Putu Wijaya

Catatan: mulai Agustus 2017 ini saya mencoba menghabiskan minimal satu buku dalam satu bulan dan menuliskan resensinya. Supaya makin rajin baca buku, karena sepertinya saya mulai sering kehilangan fokus efek dari gadget dan media sosial. Semoga bertahan dan tidak lupa he he.

Brigitta Yolanda P. P.

Brigitta Yolanda P. P.

Not so talkative, but I try to write all my talks. Need coffee everyday and crazy about 'senja'. -b.yolanda28@gmail.com-

Read More