/ travel

Petualangan Kecil di Teluk Kiluan

"Kangen pantai dan laut deh pokoknya," itu omongan saya ke orangtua saya dari awal April ini. Saya rindu dengan aroma air laut yang asin, butiran pasir yang bikin susah cuci bajunya, awan putih dan langit biru yang yang menyatu dengan laut. Tanpa batas, luas.

Tak disangka, Tuhan selalu baik kepada umatNya karena tiba-tiba saya ditawari untuk ikut trip singkat oleh Ari ke Teluk Kiluan dan Pahawang, Lampung. HA!

Persiapan singkat dari Selasa malam, berangkat Jumat malam. Disepakati akan menyewa mobil dari Jakarta itu hari Kamis sore. Akhirnya kami berangkat ber-5, ada saya, Ari, Fian, Adi, dan Firman.

Berangkat ~

Kami kumpul di Slipi Jaya, makan malam dulu. Perkenalan singkat dan mengisi bensin masing-masing jadi acara awal kami ini.

Perjalanan ke Pelabuhan Merak lancar, sampai di Merak sekitar jam 12 tepat. Harga 1 mobil untuk masuk yaitu Rp 320 ribu. Ngantri sebentar dan taraaa masuk kapal :D

Ternyata di kapal ini ada kelas bisnisnya dengan kursi yang cukup nyaman terus karena ini pengalaman pertama kami cukup norak lihat sekeliling gitu. Bayar tambahan per orang Rp 10ribu.
selfie pake hp Ari curang ini yang fokus yang di depan doang :p

Sampai di Bakauheni sekitar jam 01.45, langsung dilanjutkan perjalanan ke Teluk Kiluan. Berikut adalah rute yang kami lewati dari Bakau menuju Teluk Kiluan

Jangan kaget ternyata pada perjalanan ada jalur yang masih bebatuan dan sangat sulit untuk dilewati. Membuat kami harus turun dari mobil, daripada mobilnya nanti tidak bergerak dan nyangkut sana sini.

Sampai

Mendekati lokasi Teluk Kiluan ternyata kami melewati perkampungan yang dihuni oleh warga keturunan Bali yang beragama Hindu. Sempat kami mampir di rumah warga dan mengobrol singkat, mereka ternyata warga Bali yang merantau ke Lampung sejak 40 tahun yang lalu. Saat ini di daerah tersebut ada sekitar 40 KK yang beragama Hindu dan memiliki pura di rumah mereka. Kebetulan baru saja mereka selesai merayakan Galungan dan Kuningan, jadi terlihat janur mengering di kanan kiri jalan. Semacam melewati Ubud!
dapat tempat foto bonus :D

Sampai di Teluk Kiluan, memang pantainya hanya bebatuan, tetapi terlihat ada pulau kecil dengan pasir putih di seberang. Bertanya-tanya dengan pemilik lokasi bisa ngapain aja nih di sekitar sini. Ada trip mencari lumba-lumba, kemudian bermain di Pulau Kelapa dan trekking menuju Laguna Gayau. Oke diskusi dan akhirnya kami sepakat untuk berkeliling dengan perahu di lautan, siapa tahu lumba-lumbanya masih ada walaupun waktu sudah menunjuk pukul 09.30.
foto awal di Teluk Kiluan

Berjemur di Tengah Laut

Harga sewa 1 perahu sekitar Rp 300rb, 1 perahu bisa diisi 3 orang, karena kami ganjil, jadi ada 2 orang dan 3 orang. Kemudian ada biaya untuk Laguna Gayau, sewa guide di Gayau karena lokasinya cukup ekstrim. Total untuk wisata seharian ini sekitar Rp 150ribu/orang. Selesai pembayaran langsung menuju perahu! Saya satu perahu dengan Firman dan menuju tengah laut.

Matahari semakin terik, tapi langit semakin biru. Sebagai si tukang bengong saya menikmati pemandangan ini sampai terkantuk-kantuk. Panasnya cuaca tidak saya hiraukan, karena terpukau dengan birunya langit dan tenangnya laut. Mesin perahu cukup berisik, sehingga saya tidak banyak mengobrol dengan teman satu perahu. haha. mau tidur, tapi takut oleng.

Sejam memutar laut sampai daratan tidak terlihat, ternyata lumba-lumbanya sudah tidak muncul. Mungkin mereka sudah bobo siang. Sampai pukul 11.30 kami masih ada di tengah laut. Eh, ternyata kami mendapatkan perahu yang mesinnya sering mati-mati. Mungkin ada sekitar 4 kali kami terombang-ambing di lautan. Kalau kata Firman, tempat yang cocok untuk quality time bersama kekasih. Mungkin sambil sharing tentang kehidupan, bawa cheetos ataupun lays makan di tengah laut yang makin asin. Hiraukan matahari, selama pergi bersama kekasih rasanya pasti menyenangkan kan ;))
akhirnya perahu kami ditarik perahu lain sampai di Pulau Kelapa

Rayuan Pulau Kelapa

Setelah cukup kecewa karena tidak bertemu dengan si Lumba-lumba padahal sudah sambil menyanyikan lagu Bondan Prakoso, akhirnya kami sampai di Pulau Kelapa. Kekecewaan terobati karena kami disambut dengan tepian pantai dengan pasir putih dan degradasi warna biru muda-biru gelap. Otomatis saya berteriak : "AAAAAAAAA....."

Tunggu dulu, sebelum bermain kami pun harus menuruti suara perut yang sudah keroncongan karena dari pagi kami belum makan nasi. Ada warung di dalam pulau tersebut dan langsung bertanya ada makanan apa. Sayang sekali tidak ada ikan bakar, kami cukup makan nasi telor saja dan ada yang memesan indomie goreng 2 bungkus. Mungkin itu nasi telor terenak dalam hidup saya karena saya sangat lapar!

Setelah makan cukup kenyang, kami lanjut berfoto ria. Berikut hasil foto narsis anak-anak milenial.
enaknya di sini kemarin masih sepi

Laguna Gayau

Kami masih ada satu spot lagi, yaitu Laguna Gayau. Kami kemudian melanjutkan perjalanan lagi ke pulau selanjutnya dan diteruskan dengan trekking. Well, I didn't expect kalau jalurnya naik bukit dan turun bukit. Sebagai orang dewasa yang tidak lincah dan kurang olahraga, saya cukup payah untuk sampai ke lokasi ini. Lokasi awalnya masih enak, karena jalan sudah dibeton, namun seterusnya masih berupa jalan setapak yang cukup menanjak. Napas sudah ngos-ngosan. Kalau pendaki gunung mungkin tidak seberapa, tapi bagi saya hal ini luar binasa.

Berkat dorongan semangat dan kesabaran kawan-kawan saya ini, kami berhasil sampai untuk melihat air yang muncrat di bebatuan. Sekarang untuk menuju ke sini tidak boleh hanya wisatawan sendiri tanpa diawasai orang lokal. Karena belum lama ada kejadian yang memakan korban karena lokasi ini terdiri dari bebatuan licin, kalau tidak hati-hati bisa ikut terseret di arus laut yang cukup deras. Untuk berfoto di bebatuan harus turun sedikit dan terlihat jalurnya licin. Daripada merepotkan ya, lebih baik saya tunggu di atas dan terpukau dengan pesona air laut yang memecah bebatuan.

Saat di Pahawang dan mengobrol dengan supir kapal yang asli Lampung, asal kata Kiluan itu adalah Kilu atau "meminta". Katanya sih memang terkenal mistis. Mitosnya pulau tersebut sering "meminta", sampai jatuh korban. Apa pun ceritanya, pesona alam di sini tidak dapat diabaikan :)

Pulau Kelapa yang Merayu Lagi

Setelah dari Laguna Gayau dengan menuruni jalan setapak secara slow motion, akhirnya kami kembali ke Teluk Kiluan. Waktu menunjukkan pukul 15.00. Rencana awal adalah....kami akan mendirikan tenda di Gigi Hiu. Gigi Hiu tempat yang sangat cocok untuk hunting foto, terutama spot untuk sunset. Masyarakat lokal bilang untuk ke sana hanya bisa dengan motor dan jalan lebih berbatu dibandingkan jalanan awal tadi. Terlihat cuaca sedikit mendung, bagi saya yang nyali langsung ciut melihat langit gelap mengutarakan tidak pergi ke Gigi Hiu karena perjalanan dengan motor selama 1,5 jam dan medan juga tidak bersahabat. Akhirnya disepakati kami mendirikan tenda di pinggir Teluk Kiluan saja.

Pukul 15.30 masih siang ya, akhirnya beberapa dari kami memutuskan untuk kembali ke Pulau Kelapa. Seolah-olah laut dan pantai di sana memanggil untuk diceburi. Dengan tambahan Rp 15ribu untuk penyeberangan, akhirnya kami kembali ke sana dan langsung nyebur. Menikmati pantai, tidur di atas pasir dan menikmati langit biru. Pulau ini juga menyediakan sewa seperangkat alat snorkeling, seharga Rp 40rb (life vest dan google), Rp 50rb jika dengan fin. Saat snorkeling, terlihat ada ikan-ikan kecil walaupun memang sudah sedikit gelap tapi lumayan ada ikan yang menyapa.

Kebiasaan saya memang duduk-duduk di pinggir pantai, melihat aktifitas manusia-manusia yang juga sedang berbahagia. Menikmati tenangnya langit biru. Merasakan keheningan dalam diri. Mungkin sambil berpikir, enaknya kapan ya resign dari kerjaan? (loh). Sayang sekali di pulau ini bukan spot sunset yang bagus, lagipula langit sedikit berawan. Jadi tidak ada foto sunset di hari ini.

anak pulau sehari, sampai gosong

Bermalam - Keesokan Harinya

Sore menjelang, kami kembali ke Teluk Kiluan kemudian secara bergantian mandi. Ada tempat mandi dan cukup bersih juga di sini karena memang sebenarnya kami menumpang di Vila Dio namanya, terdapat beberapa kamar untuk menginap. Namun karena kami sudah bawa tenda, kami, eh sorry, para pria pun mendirikan tenda. Sewa tempat adalah Rp 100rb. Kemudian diinfokan lagi bahwa ada tempat penjualan ikan dan bisa dibakar sekaligus. Hmm, rencana untuk masak sendiri akhirnya diurungkan dan kami mencari makan di perumahan sekitar. Singkat cerita kami makan ikan bakar kakap sangat besar (berat 4 kg). Harganya adalah Rp 40rb/kg. Intinya adalah : KENYANG PAK!

Sampai di tenda sudah pukul 22.30 (well, ini ngarang sih, tepatnya tidak tau jam brp). Rencana mau nyoba foto bintang kan, tapi gerimis dan langit berawan. Yasudah, akhirnya kami tidur. Untungnya tidak hujan selama kami tidur, sebagai orang dewasa yang terakhir nenda itu sekitar 6 tahun yang lalu, saya cukup khawatir sih takut kebanjiran pas hujan. he he.

Pukul 04.30 keesokan harinya, saya terbangun. Suara deburan ombak yang pertama terdengar saat buka mata itu rasanya....... more than happy :'')
Suka. Ha ha
Kemudian saya kepikiran untuk mencoba foto bintang di langit, mumpung masih gelap dan terlihat ada beberapa (?) bintang. Ambil tripod dan kamera saya, coba-coba setting, hasilnya... biru aja. blur sedikit. belum canggih ini fotonya. Kemudian menunggu sunrise, tapi arah timur ternyata cukup jauh dari tempat duduk. Masih mager, yaudah foto seadanya :P
hasil foto low speed, masih perlu dilatih karena tidak terlihat low speed

Semakin terang, kepikiran untuk sarapan. Ikan 4kg sudah menguap bersama aroma laut. Akhirnya kompor yang dibawa dari Jakarta terpakai... Dengan bahan makanan instan yang Ari bawa, kami pun makan di pinggir pantai. Selain makan cream soup, dibuat juga wedang uwuh (saya tidak doyan, tapi kawan lain sampai isi ulang berkali-kali). Seru ugak nih beginian ya..
makan dan minum dengan view laut, langsung dari panci! Kapan lagi ye kan wkwk

Demikian petualangan kami di Teluk Kiluan, setelah mandi-mandi kami melanjutkan perjalanan ke Pahawang. Akan saya lanjutkan di posting selanjutnya ya gaes!!

Berterima kasih kepada Bapak Ari, yang sudah merencanakan trip ini bersama kedua temannya, dan menyupir dari Jumat malam-Selasa malam. Foto di tenda dulu, untuk bukti liburan nenda. Disponsori oleh Avanza merah yang ikut berjuang melewati jalan bebatuan. CHEERS!! :D

"Why do we love the sea? It is because it has some potent power to make us think things we like to think" - Robert Henri

Brigitta Yolanda P. P.

Brigitta Yolanda P. P.

Not so talkative, but I try to write all my talks. Need coffee everyday and crazy about 'senja'. -b.yolanda28@gmail.com-

Read More