/ travel

Cerita Lain tentang Liburan di Pulau Belitung

Tidak hanya view laut dan batu-batu besar indah yang bisa didapatkan di Pulau Belitung. Ada lokasi menarik lainnya yang bisa dikunjungi dan tentunya sangat cocok untuk menambah koleksi foto di instagram kalian. Berikut adalah lanjutan dari liburan cantik Pulau Belitung.

Eloknya Museum Kata Andrea Hirata

Pulau Belitung mulai terkenal salah satunya karena karya Andrea Hirata. Jujur sih belum pernah baca bukunya (maafkan), tapi seluruh filmnya saya nonton dan saya suka! Janji habis ini saya baca bukunya, kebetulan ada buku yang baru diterbitkan judulnya Sirkus Pohon. Kalau menonton film Laskar Pelangi yang saya ingat adalah jalanan Ikal dkk yang dilalui saat ke sekolah itu kanan kirinya ilalang dan sepi dan jauh banget. Saat perjalanan saya dari Tanjung Pandan menuju Belitung Timur ternyata kurang lebih sama. Padahal ini tahun 2017 ya kan. Kendaraan bermotor sangat sedikit, tapi jalanan sudah beraspal rapi. Untung tidak ada buaya yang lewat di depan mata sih..

Nah di Belitung ini ada Museum Kata Andrea Hirata, yang sudah pasti tidak boleh dilewatkan jika main ke Belitung. Museum ini merupakan museum literasi pertama di Indonesia. Biaya masuk adalah Rp 50.000,- dan mendapatkan buku saku Laskar Pelangi. Rumahnya sederhana, namun warna-warni dan berbagai foto yang terpampang membuat museum ini istimewa. Seperti sebuah kata sederhana, jika dirangkai seindah mungkin pasti akan menjadi sastra yang menarik untuk dinikmati. Sekali lagi, lokasi ini cocok untuk diabadikan setiap sudutnya. Banyak kutipan-kutipan yang tertulis di setiap sudut ruangannya. Ada still photo dari film Laskar Pelangi yang dicetak besar dan sangat manis untuk mengingat kembali kerennya cerita tentang Andrea Hirata ini. Tidak luas, tapi sangat bisa dinikmati.

Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu - Andrea Hirata

Itu quote favorit saya di antara quotes yang bertebaran di semua sisi museum ini. Pokoknya menyenangkan sekali saya bisa mengunjungi lokasi ini, padahal sebenarnya saya sudah mengikhlaskan untuk tidak mampir ke sini. Namun mungkin ini jodohnya, karena tiga teman saya yang datang awal di hari Jumat tidak bisa masuk karena Idul Adha, nah di hari Minggu (hari kami pulang) disempatkan untuk mampir ke sini. Bahagia :')

sesi foto dan lokasi Museum Kata Andrea Hirata yang berwarna-warni :)

Danau Kaolin

Sebelum menuju ke Museum Kata yang hanya berjarak sekitar 1,5 jam dari Tanjung Pandan, kami mampir ke lokasi bekas penambangan timah. The famous Danau Kaolin. Kegiatan menggali dan mengeruk tanah untuk mendapatkan timah, menimbulkan genangan air yang menjadi berwarna biru kehijauan. Ironi, karena lokasi merusak alam menjadi tujuan wisata. Kalau Danau Kaolin di Belitung ini warnanya tidak sebiru yang di Bangka, menurut teman saya Danau Kaolinnya lebih bagus yang di Bangka. Jika kalian mampir ke Bangka mungkin bisa dicari di mana Danau Kaolin yang lebih oke itu. Pas saya dan teman saya ke sini tidak bisa turun ke bawah karena dipagari, katanya masih rawan longsor dan terlihat alat berat di sekitar danau tersebut. Sedangkan kalau di Bangka danaunya sudah tidak ada kegiatan penambangan lagi. Kalau ke Danau Kaolin ini memang panas, jadi foto-foto sebentar sudah cukup.

Ketika hasil penggalian menghasilkan warna yang terlihat cantik

Kuliner yang dicicipi di Belitung

Apalah artinya liburan tanpa mencoba kuliner khas dan yang terkenal di daerah yang dikunjungi tersebut. Pada sore hari pertama saya di Belitung, saya langsung mencoba Rumah Makan Belitong Timpo Duluk. Berdasarkan keterangan driver, bangunan restoran ini masih asli, tidak ada perubahan, dan dilestarikan menjadi warisan budaya. Interiornya jadoel poenya, ada caping, tas dari karung, onthel menggantung, dan piring yang digunakan juga piring kaleng yang jadoel.

Dari interiornya yang seperti lorong waktu dan membuat merasakan jaman masih tidak ada yang namanya internet ya kan, jadi penasaran dengan makanan apa saja yang ditawarkan di sini. Kebetulan sih saya tidak foto menunya ya, mungkin bisa langsung search sendiri. Tapi makanan yang saya dan kawan-kawan saya pesan adalah: Cumi goreng tepung, iga bakar, sayur kangkung, ikan goreng tepung, semacam gulungan tepung dengan kuah kuning (ga tau namanya), dan yang paling enak adalah otak-otaknya. Kenyal dan saya rasa tepungnya dikit sekali. Kami cuma pesan satu porsi tuh otak-otaknya, mau pesan lagi eh sudah habis. Enak beudh... Nah di sini ada istilah makan bedulang, jadi makannya rame-rame di satu nampan besar gitu. Paketan. Overall makanan oke punya.

Terlihat kan, tampak depan, makanannya dengan sambal yang cukup endeus, kemudian piring-piringnya. Jangan lupa es jeruknya

ini foto saya bertemu dengan Aqyl, teman kuliah saya di Geodesi dan satu bimbingan skripsi. Kebetulan sedang proyek di Belitung. Biasa bertemu di Jakarta, eh ini disempatkan bertemu di Belitung. Jadi saya sudah 2 kali loh ke Timpo Duluk, sore setelah Tanjung Pendam kemudian malam harinya ke sana setelah beberes di hotel. Saya pesan sate ikan, yang tidak ada tusukannya. Rasanya enak juga, mirip otak-otaknya. hehehe

Selanjutnya adalah, saat melakukan kegiatan hopping island, kami makan di Pulau Kepayang. Mungkin yang menjadi kekurangan dari perjalanan kami ini adalah kurang terbukanya informasi mengenai harga paketan makanannya. Beberapa dari kami pikir bisa pesan makanan di pulau tersebut, malah ternyata kami hanya disajikan langsung makanan paketan. Pas ditanya harganya ternyata Rp 90rb/orang dengan rincian harga makanan Rp 70rb dan biaya "numpang" makan di restoran tersebut adalah Rp 20rb. Agak merasa dicurangi, tetap saja kami bayar sih... wakaka kalah debat. Terus kita ga foto makanannya di sini... Jadi konsepnya adalah restoran di sebuah pulau. Tempat pemberhentian makan siang dan semua orang ke sini. Sebenarnya kami ditawari untuk membawa nasi bungkus saja dan makan di pulau manaaa gitu sama drivernya, tapi karena takut sudah dingin dan tidak enak kami nekat ke Pulau Kepayang. Tapi ya gitu, langsung dipesenin paketan. Serba salah, macam Raisa6690. Well, isi paketannya adalah ikan bakar, kepiting, cumi tepung, nasi putih, dan ikan gulai. Oke sih, tapi karena tidak dikasih tau harganya dari awal rasanya agak gimana :p

muka kekenyangan dan setelah nenggak abis kelapa seharga 22k

Pulau Sumatera itu terkenal dengan pempeknya, ga cuma Palembang yang punya. Pekanbaru ada, Bengkulu juga, Lampung pula. Nah Belitung juga ga kalah. Ada Rumah Makan Mama Rio yang menjual pempek. Ini random, karena sepulang kami dari Tanjung Tinggi kami berencana tidak mau makan berat. Maunya beli martabak bangka dan cemilan istimewa lainnya (iya, martabak itu bukan makanan berat bagi cewek-cewek cantik ini). Ditawari oleh driver untuk mencoba pempek, langsung serentak bilang mengapa tidak. Bertempat di rumah si Mama Rio (ya anggep saja, karena memang jualannya di garasi rumah), bersih dan rasanya tidak mengecewakan. Kapal Selamnya meresap, garing renyah di luar, dalamnya berasa ikannya. Kuah pempeknya juga okee.. Nah yang beda itu pempek kulitnya, bentukannya seperti ayam katsu, cuma memang enak saya icip sedikit punya teman. Pempek yang penting itu memang cara gorengnya dan pempek ini digoreng dengan sukses. Di sini juga menyediakan tekwan. Harga kapal selam 13k (murah ya, coba cari deh lautan luar negeri yang menjual kapal selam seharga 13rebu. cuma Indonesia!), kemudian lenjer dan kulit 7k. 20k sudah kenyang.

ngiler ga sih gaes lihatnya?

Ketam isi. Atau kepiting goreng, atau rajungan. Ini juga pada doyan sih. Kalau saya kurang suka dengan kecrispy-an dari kulit kepitingnya itu. Kepiting kecil-kecil, digoreng dengan kulitnya, cocok untuk oleh-oleh Belitung. Sebenarnya mau kasih foto ketamnya, tapi saya horor sendiri agak geli ternyata. Jadi ya tidak usah ya.

Mie Atep. Menurut saya enak juga, tapi terlalu manis kuahnya. Mie ini wajib bagi pelancong. Buka jam 8 pagi dan langsung ramai pengunjung. Isian mienya ada udang, kentang, semacam otak-otak kecil, tahu, timun dan empingnya yang menyeimbangkan rasa manis mie ini. Mienya tidak hangat, jadi bisa langsung seruputt.. Jangan lupa minumnya es jeruk kunci, karena es jeruk kunci adalah kunci kenikmatan. Harga, jangan khawatir, tidak seperti membeli bakmi GM spesial.

mantap kakaknya

Bakmi Bangka. Bolehlah mencoba bakmi yang berasal dari pulau sebelah. Tekstur mienya beda lagi dengan mie atep. Kalau mie atep seperti yang ada di pempek, mie bangka yang kemarin kami makan lebih kecil-kecil diameter mienya. Disajikan lengkap dengan pangsit rebus, bakso ikan 2. Kenyang! Sebenarnya kawan saya di awal mencoba bakmi dengan daging haram, katanya sih oke. Tapi mungkin harus coba bakmi bangka di Pulau Bangka langsung ya.

Kopi Kong Djie Aseli. Dengan kocek Rp 15.000,-, sudah bisa merasakan es kopi susu (susunya Omela, penting ini) yang segar. Sedikit asam menurut saya, tapi cita rasa khas. Mau tahu yang termantap? Ada es cokelat. Beuhhhh....edun. Legit, kental. Disediakan juga bubuknya. Sebenarnya di Jakarta sudah banyak cabangnya, bahkan di Belitung ini juga banyak dan tertulis Kopi Kong Djie di beberapa tempat. Saya juga minum kopi ini saat di Belitung juga 2x dan di tempat yang berbeda. Tapi belum afdol kalau belum ke lokasi awal Kong Djie...

kopi...dan cokelat.....nikmat (apaan bingung caption)

seberang Kong Djie persis ada gereja katolik gaes. kalau mau ibadat bisa ke sini ya :)

Cemilan istimewa : BOLA UBI. TERANDOM. Kemarin nemu yang jual ini, tapi karena ada kawan yang ketagihan jadinya ini cemilan khas Belitung bagi ceciwi ini hehehe. BOBOBI. EHE.

Berikut oleh-oleh yang bisa kalian bawa pulang!

selain Kopi Kong Djie, ada Kupi Kuli yang berasal dari Museum Kata Andrea Hirata. Kue sagunya enak. Sirup jeruk kunci juga enak ni, kawan kantor pada doyan

Nah selain tempat-tempat di atas dan laut yang sudah saya bahas di postingan sebelumnya, ada tempat lainnya yang bisa dikunjungi di daerah Manggar yaitu Rumah Rotan dan Kampung Ahok, serta rumah adat Belitung. Ahok itu mantan pimpinan Belitung Timur lohh :'''D sayang belum bisa ke sana... Oh ya sederet dengan Museum Kata, ada juga replika Sekolah Laskar Pelangi yang muncul di filmnya.

Kesimpulan, Belitung ini pulau kecil dengan keindahan yang tiada taranya. Saya amaze banget dengan lautnya serta warna-warni yang disuguhkan pulai ini. Nah selain itu sepinya pulau ini juga bikin amaze. Hari Minggu ya, tapi jalanannya sepiiiii banget. Heran.... Semoga lokasi wisata di Indonesia bisa semakin ramai pengunjung dan akomodasinya juga semakin dipermudah, karena memang indah banget.....

Tambahan Cerita
Pinginnya sih bisa kasih penjelasan total biaya yang dikeluarkan, tapi terlalu mager hitung lagi (well, ya... hahaha sudahla). Estimasi pengeluaran saya adalah sekitar Rp 2jt untuk 3D2N. Hotel Bahamas Rp 340rb untuk 2 malam, kami pesan 2 kamar untuk 5 orang. Hotel ini nyaman. Menghadap laut sekaligus bagian barat. Sebenarnya bisa banget kok nikmatin sunset di hotel ini, tapi karena jadwal padat tidak bisa santai-santai banyak di Bahamas.

kalau pagi hari, terlihat laut surut dan kapal bertumbangan

Pesawat saya total Rp 1,2jt PP, nah bukan Brigitta kalau ga yang aneh-aneh. Saya transit di Bangka dulu saat pulang, sendirian. Bandara Bangka, di Pangkal Pinang yaitu Depati Amir sudah bagus, jauh lebih canggih dibandingkan Belitung. Dari lokasi parkir terlihat ada danau bekas timah yang memang warna airnya biru muda. Kalau saya berani menjelajah sendiri, mungkin saya bisa kasih fotonya ya. Tapi saya foto dikit di Bangka, karena turun pesawat diserang pusing hebat sampai keluar lagi isi perut saya yang isinya mie bangka >.< Nah tapi saya sempat mencicipi Kedai Kopi Tung Tau (direkomendasikan oleh Aqyl), kopi andalannya Bangka. Sudah cukup terkenal nih kedai kopi katanya, legendaris! Kalau saya tidak sakit mungkin berasa banget deh itu kenikmatan kopi tariknya dan roti panggang wijen susunya yang empuk...

penampakan bandara di Pangkal Pinang dan Tung Tau, serta panorama Banda.. ehe

So, demikianlah cerita perjalanan saya dan kawan-kawan cantik saya mengarungi Belitung (dan Bangka sedikit untuk saya). Harus sering-sering berkelana menikmati luasnya, indahnya, menakjubkannya Indonesia. Tidak hanya pemandangannya, namun budayanya pun sangat perlu dinikmati. Semoga postingan panjang ini tidak membuat bosan ya.... Ciao, sampai bertemu di tag travel lainnya...

We travel, some of us forever, to seek other states, other lives, other souls - Anais Nin

Brigitta Yolanda P. P.

Brigitta Yolanda P. P.

Not so talkative, but I try to write all my talks. Need coffee everyday and crazy about 'senja'. -b.yolanda28@gmail.com-

Read More